Follow Us @soratemplates

Kamis, 18 Februari 2021

Ledok Sambi, Hidden Place di Kaliurang Yogyakarta

Februari 18, 2021 0 Comments


Jogja kalau bicara tempat wisata memang tidak ada habisnya. Di masa pandemi begini, orang-orang mulai mencari hidden place untuk berlibur ataupun sekadar berkunjung melepas penat. Nah, di Kaliurang banyak sekali tempat-tempat tersembunyi yang ciamik dan belum terjamah publik. 

Salah satunya adalah Ledok Sambi, sebuah lokasi wisata yang berada di Desa Wisata Sambi, Pakem, Kaliurang. Suasana di Ledok Sambi itu syahdu sekali, gimana tidak, kamu duduk berbincang-bincang sembari menikmati makanan di pinggir sungai, dengan angin sepoi-sepoi dan hawa sejuk khas Kaliurang. 

Ledok Sambi juga ramah anak, aliran sungai yang  tidak terlalu deras dan banyak berbatuannya membuat anak-anak bebas bermain air dan naik ban menyusuri sungai. Banyak ibu-ibu yang senang hati melepas anak mereka bermain di sungai sambil mewanti-wanti agar anaknya tetap hati-hati. 

Pertama kali masuk, kalian akan menemukan tempat parkir dan akan turun ke bawah untuk menemukan sungai. Di atas, sebelum menuruni anak tangga, banyak ibu-ibu yang berjualan makanan, dan di pinggir sungai juga ada warung. 

Anak tangganya lumayan banyak, tetapi begitu sampai di bawah kalian capeknya akan terbayar dengan pemandangan dan suasana yang nyaman dan tenang. Disambut dengan hamparan rumput, anak sungai yang mengalir di sepanjang lokasi, tenda-tenda dan jembatan. 



Berawal dari sebuah warung.

Ledok Sambi bermula dari sebuah warung kecil yang dikelola oleh penyedia jasa outbond. Ledok Sambi dahulu sering dipakai untuk kegiatan outbond sejak tahun 2004. Lokasinya pun sudah dipindahkan, mulanya berada di atas lembah dan dipindahkan ke bawah lembah yang ada aliran sungainya. 

Sekarang Ledok Sambi juga ada warungnya kok, jadi tidak perlu khawatir. Kalian bisa memesan ragam makanan dan minuman untuk dinikmati sembari berbincang, menikmati suasana dan melihat anak-anak bermain air. 

Menu yang tersedia beragam, ada pisang goreng, aneka sayur dan lauk, aneka nasi, ubi goreng, kentang goreng dan lainnya. Untuk minuman juga beragam, mulai dari aneka kopi, dan teh. Ada kopi Vietnam juga. Untuk kisaran harga makanan mulai Rp 4.000 sampai Rp 18.000. Sedangkan minuman berkisar Rp 5.000 sampai Rp 15.000



Arena flying Fox dan paint ball

Dikarenakan bekas tempat outbond, Ledok Sambi juga menyediakan arena flying fox dan paint ball. Kalian bisa terbang dengan flying fox membelah sungai dan melihat sungai dari ketinggian. Untuk bermain flying fox dikenakan biaya Rp 25.000 untuk per orangnya. Sedangkan paint ball dikenakan Rp 50.000 per orangnya. 

Ketika berkunjung ke sana, banyak anak-anak yang bermain flying fox, dan bermain paint ball. Ya kalau tidak berani atau takut ketinggian, bisa bermain di sungai juga, lo. Lebih hemat dan tidak kalah seru, airnya juga jernih khas pegunungan, mantap pooll

Menyediakan tenda camping

Selain sungai, Ledok Sambi juga menyediakan arena camping. Banyak tenda-tenda berjejer di sepanjang sungai. Terkadang tenda tersebut dipakai oleh pengunjung dan juga disewakan untuk camping. Untuk satu tenda berkisar 35.000 per orang dan untuk tenda yang memuat kapasitas banyak, maksimal 4 orang, berkisar 120.000 per malam.

Oh ya, camping tidak lengkap tanpa api unggun bukan? Nah, Ledok Sambi juga menyediakan perlengkapan api unggun. Kalian cukup membayar 100.000 per tenda, maka pihak Ledok Sambi akan memberikan perlengkapan lengkap api unggun. 


Bekerja sama dengan warga desa

Karena terletak di kawasan desa wisata, Ledok Sambi bekerja sama dengan warga desa untuk pengelolaan lokasi wisata dan penyediaan makanan. Ibu- ibu di desa Sambi memasak untuk dijual kembali di warung. Tradisi seperti ini sangat menguntungkan perekonomian warga desa, dan memang seharusnya kan menyejahterakan warga desa yang dekat dengan lokasi wisata. 


Ledok Sambi berada di Desa Sambi, Jalan Kaliurang, KM 19,  Pakem, Sleman. Sekitar 40 menit dari pusat kota Jogja. buka mulai pukul 08.00 WIB, sampai pukul 17.00 Wib. Saat ini tiket masuk ke Ledok Sambi masih seikhlasnya dan dengan parkir Rp 2.000. 

Gimana? Tertarik menikmati akhir pekan atau penghujung hari di Ledok Sambi? 




Rabu, 17 Februari 2021

Wejangan Puthut EA untuk Calon Penulis

Februari 17, 2021 0 Comments

Saya lupa pernah melihat buku ini di mana, mungkin di laman akun instagram Mojok. Saya penasaran dong dengan buku yang ditulis kepala suku Mojok ini. Terlebih saya sudah membaca lima buku karya Mas Puthut. Ya semenjak saya membaca buku Isyarat Cinta yang Keras Kepala, saya jadi tertarik membaca buku-buku karya Mas Puthut. 

Buku bersampul merah muda ini di luar dugaan saya. Awalnya saya mengira buku ini akan berisi segala tips dan trik menjadi penulis. Ternyata oh ternyata buku ini justru berangkat dari rasa muak Mas Puthut dengan pertanyaan pertanyaan khas seminar buku. 

Pertanyaan seperti bagaimana proses menulis buku, idenya dapat dari mana, atau apakah buku ini cerita dari penulis langsung, dan sebagainya. Kalian yang sering ikut bedah buku atau launching buku dengan penulis pasti pernah terlintas ingin bertanya pertanyaan yang di atas. 


Pertanyaan tersebut mungkin tidak hanya terlintas dan terlontar saat seminar atau bedah buku, juga bergulat dalam kepala seorang calon penulis. Dari mana ide didapatkan, bagaimana memiliki tulisan yang khas, hingga pertanyaan konyol, bagaimana menjadi seorang penulis. 

Untuk segala pertanyaan, jawabannya adalah menulis. menulis. Menulis. Belajar. Menulis. Menulis. Membaca. Menulis. Menulis. Piknik

Oke, kembali ke buku. Isi buku ini saya artikan sebagai wejangan dari Mas Putut untuk siapa saja yang ingin menjadi penulis. Dalam menulis, ide adalah dasarnya dan kebanyakan penulis baru kesulitan dalam mencari ide, termasuk saya, hahaha. 

Well, dari buku Mas Puthut ini saya belajar bahwa ide bukanlah hal yang sulit bagi mereka yang peka. Yaps, peka, guys. Sebenarnya apa pun yang ada di sekeliling kita bisa dijadikan ide tulisan. Semuanya.



 



Tergantung bagaimana kita membawakan tulisan tersebut. Ada atau tanpa pesan yang disampaikan, atau hanya sekadar berbagi cerita saja. Selain ide, ketahanan mental seorang penulis juga sangat amat perlu. Kritik dan saran adalah hal yang lumrah dalam sebuah karya. 

Penulis yang karyanya di kritik tak perlu bawa perasaan dan alih alih berhenti menulis. Ya jadikan saja kritik tersebut bahan untuk karya yang lebih baik. 

Buku bersampul merah muda ini benar-benar hadir untuk menemani proses menulis para penulis baru sepertiku. Apa kalian, sudah membaca buku ini?


Jumat, 05 Februari 2021

[Review Buku ] Bumi by Tere Liye

Februari 05, 2021 0 Comments

Buku ini bercerita tentang petualangan Raib seorang remaja berusia 15 tahun dengan kedua temannya Seli dan Ali. Raib adalah remaja yang memiliki keunikan dan kekuatan dalam menghilangkan benda dan menjadikan tubuhnya tidak terlihat ketika ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. 

Keunikan dan kekuatan ini di rahasiakan Raib sampai pada akhirnya Ali mengetahui bahwa Raib bisa menghilang. 

Setelah rahasianya tersingkap, Raib mulai mengalami hal- hal yang tidak terduga. Hal- hal yang menyangkut rahasianya, kedua kucing yang ia terima sebagai kado ulang tahunnya yang ke 9, sampai pertemuannya dengan sosok tinggi berbaju hitam, Tamus.

Petualangan dimulai saat ada kejadian heboh yang menghancurkan sekolah. Kejadian yang banyak mengungkap rahasia masing-masing mereka yang selama ini mereka rahasiakan. Seperti Seli, yang ternyata bisa mengeluarkan aliran listrik dari tangannya.  

Baca juga : [Review Buku] Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih

Ali, Raib, dan Seli bersembunyi di aula sekolah dan bercerita banyak hal. Ali si jenius berpendapat bahwa bumi memiliki empat dimensi. Tidak hanya ada satu ada satu kehidupan di bumi, tetapi ada kehidupan lainnya yang berjalan bersama- sama. 

Hingga sosok Tamus datang kembali dengan pasukannya, dan petualangan mereka di mulai. Petualangan anggota klan bumi, bulan, dan matahari.


Membaca buku ini seperti ikut merasakan petualangan dan alurnya yang membuat penasaran. Tadinya aku kira ini cerita horor, karena pada bab di mana Raib sering di datangi oleh Tamus terkesan sangat mistis. Setelah meneruskan bacaan hingga bab setelahnya, barulah jelas ternyata ini bukan novel horor. 

Bagian yang menarik bagiku adalah di mana Raib dan Seli yang semulanya tidak dekat dengan Ali, mampu saling menerima kekurangan dan bekerja sama selama melewati petualangan. Salah satu pesan moral yang  disampaikan novel ini adalah ketika dalam kondisi terpaksa dan serba terdesak, di situlah kita akan menemukan kelebihan- kelebihan yang kita punya

Dibalik kondisi yang mendesak, ada potensi yang siap melejit. Selamat membaca dan menikmati petualangan bersama Raib Seli dan  Ali.

-----------------------------------------

Judul Buku    : Bumi
Jenis Buku     : Novel
Penulis            : Tere Liye
Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN              : 978- 602- 03- 0112- 9
Tahun Terbit  : 2014
Tebal              : 440 Halaman

Selasa, 02 Februari 2021

[Review Buku] Milk and Honey By Rupi Kaur

Februari 02, 2021 0 Comments

Sebenarnya sudah lama sekali ingin membaca keseluruhan isi buku ini, selama ini cuma membaca beberapa halaman saja ketika berkunjung ke Gramedia. Nggak tahu juga kenapa rasanya belum ingin membelinya. 

Pada kesempatan berkunjung ke Rumah Berdikari, buku perempuan asal India ini turut terpajang di rak di antara buku-buku yang lain. 

Perlahan meraih buku ini dan mempersiapkan tempat duduk paling nyaman. karena hari itu adalah hari istirahatku, jadi aku ingin menikmati puisi Rupi Kaur dari buku pertamanya ini dengan khidmat. Iihirr, hahaha. 

Baca juga : Menuju Halal; Provokasi atau Edukasi

Perjalanan menjadi manusia

Milk and Honey berisi prosa-prosa indah tentang perjalanan menjadi manusia. mengapa? karena sepanjang menjadi manusia kurasa kita pernah melewati luka, cinta, kehancuran dan hari baru. Yaps, buku ini berisi empat bab tersebut. 

Siapa pun pernah mengalami luka. entah disebabkan oleh apa, entah karena cinta, pengkhianatan, di sia siakan, diragukan, bahkan dilecehkan. Luka- luka tersebut mengaga lebar dan harus disembuhkan. Proses penyembuhannya pun memakan waktu dan tenaga. Lihat saja ketika putus cinta, berapa lama kita bisa ikhlas melepasnya. 

Puisi- puisi Rupi Kaur sangat dalam dan menohok. Beberapa kali kumenepuk dada karena merasa sungguh tersentuh dan terperanjat. Puisi ini juga dilengkapi ilustrasi yang berani karya Rupi juga. Makanya buku ini diperuntukkan pada usia 17+. Selain lihai merajut kata, Rupi juga lihat melukis.


Luka

Terluka bagi siapa pun tetap tidak ada nyamannya. Luka tersebut terkadang berasal dari orang-orang terdekat kita, dari orang-orang yang kita sayang, dari mereka yang di pundaknya kita letakkan harapan, bahkan kehidupan. 

Rupi mengemas kejadian yang sering di alami perempuan dalam menerima luka menjadi puisi. Dari sini aku belajar begitu banyak di luar sana kejadian yang berpotensi membuat perempuan terluka. 

Bahkan dirinya sendiri juga bisa membuat luka, ya dengan menggantungkan harapan pada seseorang yang di sebutnya cinta. 

Dengan keegoisan untuk memiliki apa yang sebenarnya tidak sesuai dengan diri. memaksakan cinta harus di rayakan. ya, jadi lebih waspada ya, Girls.




Cinta

Kemudian cinta. Bab kedua dari buku Milk and Honey adalah bab cinta. Bab ini di awali dengan puisi tentang perempuan.  Ibu. Tempat awal kehidupan bermula. Ibu adalah sumber terkuat dalam memberi cinta dan menjelaskan cinta kepada putrinya. 

Puisi pada bab ini menyuarakan cinta dengan ragam pergolakannya, yang diinginkan manusia dari cinta dan cinta itu sendiri. 

Sering kali kita merasa sakit dalam mencintai, padahal cinta tidaklah menyakitkan. Jika tersakiti, mungkin kita sedang menjalin cinta dengan orang yang salah. Terlalu banyak menuntut dan memanfaatkan lalu pergi meninggalkan. Pedih coyyyy. 

Cinta tak jarang juga membuat kita merasa hancur atau benar-benar hancur. Entah karena salah memilih pilihan, mencintai orang yang salah hingga bagaimana  memperlakukan seorang wanita atas nama cinta. 



Hancur

Kehancuran tersebut bukanlah hal yang mudah untuk diterima apalagi buru-buru bangkit darinya. Perlu menemukan diri sendiri untuk melakukan itu semua. Ya, pada akhirnya cinta bermuara di diri sendiri. Dengan mencintai dan menerima diri, kita bisa memberikan cinta ke luar diri. Kepada orang lain. 

Puisi pada buku yang sangat laris di dunia ini memberikan kesadaran, kekuatan, dan bisa memulihkan luka yang mungkin sedang dialami pembacanya. 

Setelah membaca buku ini aku jadi yakin untuk mempertahankan apa yang membuat diri ini berkembang dan melepaskan segala hal termasuk manusia yang membuat tersakiti dan menghambat.


 

Hari baru

Bab terakhir dari buku ini adalah hari baru. Setelah diajak mengingat dan merasakan kejadian di masa lalu, pembaca diajak untuk membuka lembaran hari baru. Pada bab ini aku merasakan kekuatan yang penuh ketika membacanya. 

Pasalnya Rupi menuliskan puisi yang mengisyaratkan harapan bagi siapa pun yang sudah berhasil merengkuh masa lalu dan membasuh lukanya. Pada akhirnya yang bisa menyembuhkan luka kita, adalah diri kita sendiri. 

Dengan mengakui, menyadari apa yang sudah kita lakukan di masa lalu dan mau memaafkan diri sendiri. Setiap orang pasti memiliki sisi tergelapnya dalam menjalani hidup, tak mengapa, kita manusia, sempurna karena ketidaksempurnaannya. 

Mungkin di antara kalian sudah ada yang membaca buku ini? Boleh dong berbagi di kolom komentar gimana pengalaman kalian. Menurutku, Rupi sangat jago ya menjadikan puisi dari fenomena sehari-hari, kejadian yang sangat dekat dengan kita. Puisi juga bisa menjadi healing dan rilis emosi, seperti buku ini.