Follow Us @soratemplates

Senin, 24 Mei 2021

How To Cure Yourself With A Love Letter

Mei 24, 2021 0 Comments




Ketika membaca buku karya Jhon Grey, ada bab yang menarik untuk di gunakan sehari- hari yaitu tentang menulis surat cinta untuk diri sendiri. Menulis tidak hanya sekedar merangkai kata- kata menjadi kalimat yang layak di baca. Menulis juga dapat menjadi media terapi penyembuhan diri. 


Dulu, kita sering sekali menuliskan kejadian setiap hari dalam buku diary, apakah masih ingat bagaimana perasaan setelah menuliskannya?
Lega bukan?.

                   Baca juga:  Hidup Bukan Perlombaan; Akibat Lirik-Lirik Media Sosial


Menulis surat cinta merupakan cara yang aman untuk mengungkapkan perasaan- perasaan yang ada dalam diri seseorang. Perasaan- perasaan yang tidak terselesaikan, penolakan, keinginan- keinginan, perasaan negatif, perubahan, dan lain-lain. Dengan menuliskan perasaan- perasaan tersebut dalam bentuk surat cinta, kita telah mendengarkan perasaan- perasaan dan memperlakukannya secara bijaksana. Menuliskan surat cinta mungkin tidak bisa seketika memperbaiki suasana hati, tapi dengan menuliskannya akan membantu untuk memahami apa yang kita mau dan butuhkan.

Latihan ini berguna untuk membantu menyuarakan apa yang ada di dalam perasaan tanpa takut disalahkan, dihakimi dan tidak di dengarkan, membantu melepaskan marah, mengatasi kecemasan serta dapat memberikan dan menerima ampunan kepada diri sendiri.
Tidak ada ketentuan untuk berapa kali menuliskan surat cinta ini, namun sempatkanlah menulisnya satu kali dalam sepekan, atau jika sudah merasakan sesuatu yang merisaukan , duduklah, lalu tulis surat cinta untuk dirimu sendiri.

Dalam menuliskan surat cinta ini, ada 5 emosi yang harus dikeluarkan, yaitu marah, sedih, rasa takut, penyesalan, dan rasa cinta.

Formatnya seperti ini dibawah ini.:


Versi panjang.

Dear, My Self…
  1. Marah
  • Aku tak suka…
  • Aku merasa putus asa…….
  • Aku marah karena……..
  • Aku kesal…..
  • Aku ingin……
  1. Sedih
  • Aku kecewa…….
  • Aku sedih…..
  • Aku terluka…….
  • Aku ingin…….
  • Aku mau…….
  1. Rasa takut
  • Aku cemas…….
  • Aku khawatir……
  • Aku takut…….
  • Aku tak ingin……….
  • Aku perlu……
  • Aku mau……
  1. Penyesalan
  • Aku malu…..
  • Aku menyesal…….
  • Aku tak ingin…….
  • Aku ingin……..
  1. Cinta
  • Aku cinta……
  • Aku ingin…….
  • Aku mengerti…….
  • Aku memaafkan……….
  • Aku menghargai………..
  • Aku berterima kasih padamu karena….
  • Aku tahu…….
Versi singkat :

Dear, My Self…

Aku menuliskan surat ini untuk menyampaikanperasaan- perasaanku padamu.
Aku sangat marah…..
Aku sedih…….
Aku takut…..
Aku menyesal…..
Aku cinta…….

Marah, sedih, takut, menyesal dan cinta adalah emosi yang didengarkan dan dirasakan dari dalam diri hasil dari refleksi.



P.S : Jawaban  yang ingin aku dengar darimu
(berisi kata- kata positif dan jawaban atas ungkapan diatas, dari diri sendiri untuk diri sendiri)

Selamat Mencoba!!!!!!!




Jumat, 21 Mei 2021

Relawan, Makna, Pelajaran, dan Suka Dukanya.

Mei 21, 2021 2 Comments



Selama masa pandemi ini ruang gerak kita semakin terbatas dan kegiatan yang bisa kita lakukan juga terbatas. meskipun sudah memasuki new normal, tetap saja rasa khawatir akan terpapar virus Corona tetap menghantui. beberapa aktivitas kita juga sudah berjalan kembali seperti sebelum pandemi, selama pandemi ini, kalian paling rindu kegiatan apa sih, Guys?

Kalau aku, kegiatan relawan menjadi salah satu kegiatan yang kurindukan. Biasanya sebelum pandemi, aku rajin mengikuti kegiatan relawan di komunitas-komunitas sosial, mulai dari mengajar, mengantarkan paket buku beasiswa, observasi dan seleksi penerima beasiswa, sampai menemani teman-teman kecil berobat di R.S. Sardjito. 

Meskipun sekarang banyak juga relawan-relawan yang bisa dilakukan secara daring, tapi tetap saja rindu untuk turun langsung ke lapangan tanpa khawatir dan bebas bernafas tanpa masker, hahaha. 

Kenapa menyukai kegiatan relawan?

Aku suka mengikuti kegiatan relawan karena dari kegiatan tersebut aku bisa belajar banyak hal. Misalnya belajar empati, sosialisasi, melatih peduli, dan banyak deh pelajaran-pelajaran yang didapatkan dalam kegiatan relawan. 

Tentunya pelajaran tersebut tidak ada di bangku kuliah. Mengikuti kegiatan relawan bermula dari Muslimah Hijab Day di Gunung Kidul, di sana aku dan teman-teman relawan lainnya mengadakan pengajian dan berakhir dengan membagikan hijab dan kaos kaki kepada sesama Muslimah yang membutuhkan. 

Hmmm, melihat senyum di wajah para Muslimah yang mendapatkan hijab tersebut membuat rasa capek hilang dan ada kepuasan tersendiri bisa membantu orang lain. Dari kegiatan tersebut, aku mulai aktif mencari kelompok-kelompok sosial untuk mendaftar jadi relawan. 

Setelah mendapatkan beberapa akun instagram kelompok sosial tersebut, aku mulai menghubungi adminnya dan menanyakan kapan mereka membuka lowongan relawan dan dibidang apa kelompok mereka bergerak. 

Pernah menjadi relawan di mana saja?

Sejauh ini aku pernah mengikuti kegiatan relawan di 5 lembaga. Kegiatan setiap lembaga bermacam-macam dan memiliki karakteristik juga budaya yang berbeda-beda. Kedua hal ini sempat membuatku terkejut di awal-awal mengikuti kegiatan relawan, dan malah menjadi hal yang paling aku suka dari kegiatan tersebut. 

Jadi ingat, setiap memasuki semester baru, aku mulai berselancar di instagram mencari lembaga mana yang sedang membutuhkan relawan. Tak jarang juga aku mengirim pesan pribadi kepada lembaga-lembaga yang arah perjuangannya sesuai dengan minatku. 

Setiap perjalanan memiliki makna

Kalimat itulah yang sering terlintas di pikiranku ketika sepulang dari kegiatan relawan. Selalu ada rasa senang dan terharu ketika bertemu dengan orang-orang baru yang kujumpai di lokasi penempatan relawan. 

Salah satu momen yang paling berharga adalah ketika aku mengikuti kegiatan Home Visit Relawan dari Lembaga Hoshizora kepada peserta didik yang berprestasi namun dalam keadaan ekonomi sulit. Mengunjungi rumah ke rumah dengan cerita harapan orang tua pada anak-anaknya. 

Perjalanan ini menamparku sepanjang jalan pulang. Melihat bagaimana semangat dan usaha adik-adik bintang dan orang tuanya bekerja sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan akses belajar di tengah keterbatasan ekonomi. 

Pendidikan sendiri adalah salah satu pisau pemutus garis kemiskinan dan modal dasar untuk mencapai pencerahan. 

Kegiatan inilah yang paling kurindukan selama pandemi menyerang, sekarang sudah banyak juga kegiatan relawan yang diadakan secara online, aku juga sudah pernah mencobanya dan terlibat dalam satu campaign kesehatan mental.

Meskipun online, kegiatan relawan tetap memberikan nilai, pelajaran dan dampak positif bagiku. Yuk, rajin bergabung menjadi relawan, dan rasakan perubahannya pada dirimu.