Follow Us @soratemplates

Selasa, 19 November 2019

(Review Buku) Luka Dalam Bara

November 19, 2019 0 Comments


Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan.Aaku mencintainya karena ia menjadi rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan.
Kata-kata ini telah membuat saya jatuh cinta dan langsung memutuskan membeli buku ini, beberapa tahun lalu. Hehehu.  Buku Luka Dalam Bara ini berisi fragmen-fragmen yang mulanya hanya dituliskan penulis di dalam blognya saja.

Hingga datanglah seorang Mas Teguh Afandi yang mengajak penulis untuk mengabadikan tulisannya dalam sebuah buku. Dulu saya juga berpikir seperti penulis. Bahwa tulisan-tulisan yang berasal dari perasaan, kebingungan, kesedihan, jatuh cinta dan patah hati kita tidak usah menjadi konsumsi publik sehingga cukup kita yang tahu.



Itu juga sebabnya saya tidak terlalu suka membaca buku-buku yang berisi tentang patah hati atau jatuh cinta yang terlalu di kenang. Pelan-pelan dan juga melalui buku ini, saya jadi paham dan memaklumi mengapa buku-buku seperti itu muncul dan laris. Karena dengan menuliskan kembali apa yang kita rasa, akan mengurangi sesak di dada dan tidak memenuh-menuhi pikiran kita. Meskipun ketika menuliskannya kembali, kita berpikir keras dan mengingat-ingat hal-hal yang seharusnya tidak perlu lagi diingat. Tapi itulah proses. Proses penyembuhan.

Kembali ke buku ini. buku ini berasa 85 judul dengan tebal buku 100 halaman. Yang menjadi favorit saya adalah Membaca Novel Sapardi. Begini isinya.




Membaca Novel Sapardi.


Sulit untuk membaca sepotong cerita dalam buku ini tanpa teringat padamu. Sebab sosok perempuan yang menjadi satu dari dua tokoh utama di dalamnya memiliki banyak kemiripan denganmu.  Sebagian kisahnya sudah aku ceritakan kepadamu pada malam sebelum ini. sebagiannya, barangkali, ingin kamu temukan sendiri dalam lembar-lembar bukunya.

Kata orang, saat kita merasa rindu pada sesuatu atau seseorang, alam bawah sadar kita mencetak imaji sesuatu atau seseorang tersebut dalam wujud yang kian hari kian jelas, dan imaji tersebut terproyeksi pada hal-hal yang kita lihat sehari-hari. Kita merasa melihat orang yang kita rindukan diantara kerumunan, di tempat-tempat yang sebenarnya tidak ada dia.

Di buku ini, aku menemukan sepotong dirimu. Entah karena penulisnya memiliki inspirasi yang menyerupai sosokmu, atau aku memang hanya sedang rindu.

Surat-Surat Untuk J

Dalam buku ini, ada 7 surat yang beralamatkan J. ini menjadi favorit, karena mengingatkan saya, Beberapa tahun lalu juga pernah rajin menulis surat beralamatkan nama seseorang. Kemudian berharap suatu hari nanti dia akan membacanya dan meminta untuk di ceritakan tentang surat-surat tersebut. Tapi sayangnya, hingga detik ini surat itu tidak sampai ke tangannya dan tidak akan pernah sampai. 

Rinduu..rindu.. Heheheuu. 



--------------------

Judul Buku : Luka Dalam Bara
Penulis : Bernard Batubara
Penerbit : Noura


Senin, 18 November 2019

Kesatria Cahaya ; Sesuatu yang Ada Pada Manusia.

November 18, 2019 0 Comments



Seperti yang sudah saya paparkan di dalam review buku Kitab Suci Kesatria Cahaya, bahwa menurut penulis buku ini,  Paulo Coelho, setiap kita, setiap manusia memiliki sosok sang Kesatria Cahaya dalam dirinya.

Lalu, seperti apa sih sosok Kesatria Cahaya yang sebenarnya ada di dalam diri kita dan kita belum menyadarinya?

Nah, di tulisan kali ini, saya akan menuliskan beberapa isi dari Kitab Suci ini yang menarik untuk kita baca dan renungkan.

Seorang kesatria memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajari dirinya sendiri. 

"Aneh," kata sang kesatria cahaya dalam dirinya sendiri. "Aku telah bertemu dengan begitu banyak orang yang pada kesempatan pertama, mencoba memperlihatkan kualitas mereka yang paling buruk. Mereka menyembunyikan kekuatan dalam diri mereka di balik sikap kasar dan pemarah; mereka menyembunyikan rasa takut akan kesepian dibalik kesan percaya diri. Mereka tak percaya akan kemampuan mereka sendiri, namun tanpa henti menggembar-gemborkan kehebatan mereka."

Sang kesatria cahaya menangkap kesan-kesan ini dalam diri banyak laki-laki dan perempuan yang dia  jumpai. Dia tidak pernah tertipu oleh penampilan-penampilan luar, dan dia tetap berdiam diri ketika orang-orang berusaha membuatnya terkesan. Dan dia menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya, sebab orang-orang lain telah menjadi cermin yang sangat baik baginya.

Seorang kesatria memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajari dirinya sendiri. 

Sebelum memulai pertempuran penting, kesatria cahaya bertanya pada dirinya sendiri, "Seberapa jauh aku telah mengasah dan mengembangkan kemampuan-kemampuan ku?"

Sebelum memulai pertempuran penting, kesatria cahaya bertanya pada dirinya sendiri, "Seberapa jauh aku telah mengasah dan mengembangkan kemampuan-kemampuan ku?"

Dia tahu bahwa dia belajar sesuatu dari setiap pertempuran, namun banyak dari pelajaran tersebut menimbulkan penderitaan yang tidak perlu. Lebih dari sekali dia telah membuang-buang waktu dengan bertempur demi sebuah dusta. Dan dia pernah menanggung penderitaan demi orang yang tidak layak mendapatkan cintanya.

Para pemenang tak pernah melakukan kesalahan yang sama untuk dua kali. Itulah sebabnya sang kesatria hanya mempertaruhkan hatinya untuk hal-hal yang memang layak di perjuangkan. 


Setiap kesartia cahaya pernah merasa takut untuk terjun ke medan tempur. 

Setiap kesatria cahaya pernah merasa takut untuk terjun ke medan tempur.
Setiap kesatria cahaya pernah, di masa lalu, membohongi atau mengkhianati seseorang.
Setiap kesatria cahaya pernah melangkahkan kaki di jalan yang bukan jalannya.
Setiap kesatria cahaya pernah menderita karena alasan-alasan yang paling sepele.
Setiap kesatria cahaya pernah, setidaknya sekali, meyakini bahwa dirinya bukanlah kesatria cahaya. 
Setiap kesatria cahaya pernah gagal dalam menunaikan kewajiban-kewajiban spiritualnya. 
Setiap kesatria cahaya pernah berkata "ya" ketika dia ingin mengatakan "tidak".
Setiap kesatria cahaya pernah menyakiti seseorang yang dia sayangi. 
Itulah sebabnya ia disebut kesatria cahaya, sebab dia telah melalui semua itu namun tidak kehilangan harapan untuk menjadi lebih baik daripada dirinya yang sekarang.
                                      Baca juga: (Review Buku) Kitab Suci Kesatria Cahaya

Bagi sang kesatria tidak ada cinta yang mustahil. 

Bagi sang kesatria tidak ada cinta yang mustahil. Dia tidak takut akan keheningan, ketakacuhan atau penolakan. Dia tahu bahwa di balik sikap dingin yang diperlihatkan orang, ada hati yang penuh kehangatan. 

Itulah sebabnya sang kesatria mengambil risiko lebih banyak daripada orang-orang lain. Tak henti-hentinya ia mencari cinta dari seseorang, meskipun itu berarti dia akan sering mendengar kata "tidak" dari mereka, pulang dengan jiwa-raga menanggung kekalahan dan perasaan ditolak. 

Sang kesatria tidak membiarkan dirinya dikuasai ketakutan manakala dia sedang mengusahakan apa yang dia perlukan. Tanpa cinta, dia bukan siapa-siapa. 

Kesatria cahaya adalah seorang yang percaya. 

Kesatria adalah seorang yang percaya. Karena dia percaya pada mukjizat, maka mukjizat pun mulai terjadi. Karena dia yakin bahwa pikirannya bisa mengubah hidupnya, maka hidupnya pun mulai berubah. Karena dia merasa pasti bahwa dia akan menemukan cinta, maka cinta yang didambakannya pun  muncul.

Kadang-kadang dia merasa kecewa, sekali waktu pun dia terluka. Kemudian ia mendengar orang-orang berkata "Dia terlalu lugu."

Tetapi sang kesatria tahu bahwa hal itu sudah layak dan sepantasnya. 

Karena untuk setiap penaklukan, dia memiliki dua kemenangan.
Semua orang yang percaya, tahu hal ini.

Dalam pertempuran (kehidupan) yang di jalani manusia, ada banyak hal yang di temukan lalu pergi kembali. Tetapi setiap perjalanan memberikan pelajaran dan kesan. Manusia tidak ada yang sempurna. Selalu pernah tercebur ke lembah hitam dan jurang yang curam. Tapi, bukankan tugas manusia tidak untuk menikmati kekalahan itu semua? Selalu ada cara untuk Bangkit.

Benar kata orang bijak, bahwa perjalanan terjauh adalah perjalanan menuju diri sendiri.

Sekian duluuuu, untuk menikmati isi dari Kitab Suci ini, sila di baca bukunya. Heheheu.




Sabtu, 16 November 2019

(Review Buku) Kitab Suci Kesatria Cahaya

November 16, 2019 0 Comments



Kitab Suci Kesatria Cahaya. Ketika melihat judul buku ini, saya langsung penasaran tentang apa maksud dari kesatria cahaya. Lalu ketika melihat buku ini ditulis oleh Paulo Coelho, saya langsung membelinya tanpa ragu. Dalam buku ini, penulis menyebutkan bahwa kita semua adalah kesatria cahaya. Dan seorang kesatria cahaya terkadang tidak menyadari bahwa mereka adalah seorang kesatria cahaya.

Bagaimana menyikapi setiap kejadian 

Dalam buku ini banyak sekali pelajaran hidup yang di sampaikan Paulo Coelho . Seperti kitab, font tulisan di buku ini juga kecil dan halus. Seperti suatu rahasia yang penting dan harus dijaga. Dari buku ini, saya banyak disadarkan tentang bagaimana manusia, kita, dengan segala ketidaksempurnaan ini harus berjuang dalam pertempuran (hidup). Ada banyak sekali kejadian, keinginan, pertempuran, yang terjadi sepanjang hidup ini. Buku ini mengajarkan bahwa semua itu harus kita rengkuh, terima, dan menjadikan diri ini bangkit untuk menyongsong takdir pribadi kita yang unik. 

Buku ini mengingatkan kembali tentang bagaimana seharusnya kita hidup di bumi. Bagaimana menanggapi kekalahan, ditinggalkan dan kekecewaan. Bagaimana menjadikan sakit sebagai bahan bakar untuk maju dan melejit. 



"Siapakah kesatria cahaya itu?.
"Dia adalah orang yang bisa memahami mukjizat kehidupan, yang sanggup bertahan sampai akhir dalam memperjuangkan apa yang dia yakini, dan mampu mendengar denting-denting lonceng yang diayun-ayunkan gelombang di dasar laut."

"Denting-denting lonceng yang diayun-ayunkan gelombang di dasar laut", setelah membaca keseluruhan buku ini, sepemahaman saya kemampuan ini adalah kemampuan tertinggi yang jika kita punya, setidaknya hidup akan menjadi lebih mudah dan indah. apa itu? Hmmm... coba baca buku ini dulu. Wkwk.

"Kesatria cahaya kadang-kadang berpikir, "Jika aku tidak melakukan sesuatu, maka hal itu tidak akan pernah dilakukan."
                                  Baca juga: Kesatria Cahaya; Sesuatu yang Ada Pada Manusia.

Jika ingin melakukan sesuatu, maka coba lakukanlah. Tetapi jangan lupa, ketika kita bertindak, maka sisakan ruang bagi semesta untuk bertindak juga, kalau tidak begitu ketika gagal kita akan berteman dengan sedih.

Buku ini berisi 149 halaman. Tetapi saya membutuhkan waktu 7 hari untuk membacanya. Karena memang harus diresapi benar-benar, lalu mencoba untuk menerapkan nya dalam kehidupan. Semoga setelah selesai membaca buku ini, kita menjadi kesatria cahaya yang bersinar terang untuk diri sendiri dan orang lain.


---------------------------------

Judul Buku : Kitab Suci Kesatria Cahaya
Penulis        : Paulo Coelho
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama


Minggu, 27 Oktober 2019

Buku Bajakan ; yang Kamu Lakukan Itu Jahat!

Oktober 27, 2019 0 Comments



Dilansir dari Liputan 6, pada tanggal 21 Agustus 2019, KPJ (Konsorsium Penerbit Jogja) melaporkan perkara pembajakan buku ke POLDA DIY. Di kota pelajar ini, dimana jumlah toko buku sangat banyak sekali dan toko buku di Yogyakarta sangat sering sekali mengadakan diskon besar-besaran.  Ternyata masih ada saja segelintir orang yang tidak memanfaatkan fasilitas itu. Terbukti dengan masih banyaknya jumlah pembeli di salah satu lokasi di Yogyakarta yang dimana di sepanjang jalannya berjejer toko buku bajakan.

Pernah saya iseng mendatangi toko buku bajakan itu dan melihat-lihat buku yang di jual dengan harga miring yang cenderung banting. Artinya, sangat murah sekali. Padahal, untuk terbitnya sebuah buku, banyak tangan-tangan yang ikut campur didalamnya. Ada penerbit beserta orang-orang yang didalamnya, editor, percetakan, dan penulis sang pemiliki ide. Jadi, sudah terbayang kan, berapa hak orang yang kita pangkas jika nekat membeli buku bajakan.

Kertas buram dan tulisan tidak jelas

Berbicara kualitas fisik, buku bajakan memang rendah sekali. Kertas yang buram, tulisan yang kekurangan tinta, mudah sobek, dan tentu yang menggiurkan adalah harga nya yang sangat murah. Beberapa orang pernah saya tanya mengapa ia tertarik membeli buku bajakan, jawabannya adalah dengan harga yang murah kamu bisa mendapatkan ilmu dan isi yang sama dengan harga yang mahal. Mbok, jangan egois, to


Pinterest
       Baca juga: (Review Buku) Senandung Talijiwo; Mengolah Keluhan Menjadi Senandung.

Harga menjadi kendala

Saya sangat paham, harga adalah salah satu penyebab gerai toko buku bajakan ramai peminat. Tetapi sebagai seorang pembelajar yang rajin menyantap buku, harusnya kita mempunyai cara untuk mengatasi ini. Sisih kan uang jajan dan menabung untuk membeli buku yang kita inginkan bisa menjadi alternatif. Jika ingin membeli dengan harga miring, banyak, lho, toko buku fisik ataupun online yang rajin mengadakan diskon besar-besaran. Seperti penerbit Mizan yang dalam bulan ini, baru saja mengadakan diskon. Manfaatkan itu.


Pinterest


Peluang bisnis

Jika dilihat dari segi peluang berbisnis, bisnis buku bajakan memang sangat banyak meraup keuntungan. Hal itu hanya bagi satu pihak. Pihak yang lain, seperti penerbit, justru mendulang kerugian. Umumnya buku bajakan dijual mulai dari kisaran harga Rp 10.000 sampai Rp 50.000, dan buku original sekitar Rp 76.000 sampai Rp 500.000, jika buku bajakan itu banyak dibeli, berarti penerbit menanggung kerugian yang besar. 


Pinterest

Yuk, hargai karya penulis

Dalam menciptakan sebuah buku, penulis adalah orang paling banyak berkorban. Dimana penulis harus mencari ide, mengolah ide menjadi tulisan, terkadang penulis harus melalui saat-saat tersulit dalam hidupnya yang kemudian ia tuangkan menjadi tulisan. Namun dengan enteng dan enaknya para pembajak buku mencuri karyanya dan dijadikan lahan bisnis, dimana penulis tidak mendapatkan sepeser pun keuntungan dari bisnis itu. Bagi pembaca, yuk, belajar menghargai karya orang lain dengan tidak membeli buku-buku bajakan. siapa tahu, suatu saat nanti kamu menjadi penulis, kamu akan tahu bagaimana pedih nya melihat bajakan buku kita bertebaran dengan harga yang miring sekali. 

Satu hal yang ironi sekali, dimana aparat begitu ganas merazia genre buku tertentu yang katanya sesat, tapi mengapa tak bergerak untuk merazia buku bajakan. Mengapa, oh mengapa. 




Jumat, 25 Oktober 2019

(Review Buku) Senandung Talijiwo, Mengolah Keluhan Menjadi Senandung.

Oktober 25, 2019 3 Comments


Sujiwo Tejo kembali merilis buku terbarunya pada April 2019. Kali ini berjudul Senandung Talijiwo. Buku ini menceritakan banyak hal seperti politik, masyarakat, dan tentu saja tidak lupa untuk bercerita tentang cinta. Dua orang tokoh utama dalam buku ini adalah Sastro dan Jendro. Sastro dan Jendro menjadi peran yang membawakan apapun cerita dalam buku ini.

Terkadang mereka menjadi sepasang kekasih, terkadang juga menjadi sebatas mantan kekasih yang sudah memiliki kehidupan masing-masing, menjadi tetangga, sampai menjadi sebatas ojek online dan penumpangnya. Jangan bingung, diantara Sastro dan Jendro, Jendro adalah seeorang perempuan. Jendrowati, namanya.

Politik

Bagian dari cerita di buku Senandung Talijiwo ini adalah isue- isue politik. Kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia diantara tahun 2018 sampai 2019. Semuanya di kemas dengan apik dan menggelitik. 

"Protes terbesar pada sesuatu bukan teriak-teriak sampai bakar-bakaran ban. Itu masih cemen. Puncak protes tertinggi  dan tersuci terhadap sesuatu adalah tak sudi lagi membicarakannya walau cuma sehuruf."( Hal; 88)


                      Baca juga: Pesan Rando Kim Untuk yang Sedang Menuju Kedewasaan

Masyarakat 

Cerita yang diperankan Sastro dan Jendro banyak juga yang berkisah tentang kondisi masyarakat saat ini. kejadian-kejadian unik yang ada di masyarakat kita, seperti seorang ibu kaya yang nyawer uang, dan beberapa kejadian menggelitik lainnya. Kalian pasti terbahak. 

"Manusia harus saling mengingatkan kepada kebaikan karena hutan, gunung, sawah dan lautan hanya bisa mengingatkan kita pada mantan." (Hal ;77)



Cinta

Meskipun cerita tentang cinta mendominasi disini, tapi jangan pikir ceritanya jadi menye-menye. Bisa dikatakan, di buku ini banyak mengungkap bagaimana semestinya mencintai dan bagaimana cinta bekerja. Ohya, cerita cintanya Sastro dan Jendro selalu membuat klepek-klepek, jadi, awas baper yahhhh!. Heheheu.

"Ternyata mencintai bukanlah cara untuk berbahagia. Mencintai tak lain cuma percobaan-percobaan kecil untuk melukai diri agar kelak tabah menghadapi luka-luka yang lebih besar, Kekasih." (Hal ;24)

"Kalau tak kita peduli , Kekasih, kulit selalu tak mau kehilangan kesempatannya untuk menjadi keriput. Demikian juga dengan umur. Kita perlu terus peduli umur dengan cara tak memperhatikannya sama sekali.  Maukah engkau menjadi saksi uban pertama dalam hidupku?." (Hal; 110) 

(Mawuuuuu), Jawabku dalam hati. Hahaha. 



Suka sekali dengan gaya penyampaian Mbah Jiwo di buku ini. Ngalir dan berisi. Ya seperti di blurb, Mbah Jiwo tidak memposisikan pembaca sebagai pembaca, tapi sebagai teman ngobrol dan buku ini benar-benar seperti obrolan yang sesekali membuatku berpikir "Oh, iya ya. Hmmm."

-----------------------

Judul Buku : Senandung Talijiwo
Penulis       :  Sujiwo Tejo
Penerbit     :  Bentang Pustaka

Rabu, 09 Oktober 2019

Belajar Meditasi Mindfulness; Belajar Hidup Yang "Here And Now".

Oktober 09, 2019 1 Comments




Tanggal 29 September kemarin, aku mengikuti kelas pengembangan diri tentang meditasi mindfulness. Meski sudah sering membaca tentang meditasi ini dan sudah mencoba, aku tetap penasaran dan memutuskan untuk mengikuti kelasnya. Ya, tujuan nya untuk menambah informasi dan meluruskan informasi yang aku punya. Dari kelas ini aku banyak sekali belajar tentang setiap orang memiliki problem nya masing-masing. Pelajaran ini selalu ku dapat karena aku memang cukup sering mengikuti kelas-kelas yang serupa dan menemui hal-hal seperti ini.

Ada satu pelajaran yang sebenarnya sederhana, tapi entah kenapa sulit untuk dilakukan. Apaaa tuuu? Haha. Jujur sama diri sendiri. Yaps, rupanya masih sering juga aku menipu diri sendiri. Jujur dengan diri sendiri itu penting sekali, sesederhana kita jadi tau apa yang kita inginkan dan butuhkan.

                                Baca juga : Mindfulness; Serba-Serbi Mencari Ketenangan

Meditasi mindfulness sudah beberapa kali aku lakukan sebelum mengikuti kelas ini. Dikarenakan aku pindah tempat tinggal, jadi belum menemukan tempat baru yang nyaman untuk melakukannya. Dulu, aku sering bermeditasi di loteng kos, di pagi hari. Udara yang masih segar, angin sepoy- sepoy dan langsung di bawah langit, rasanya menambah ketenangan dan kekhusyukan, hehehu.

Karena sudah lama tidak bermeditasi lagi, ketika memulai meditasi kembali punggung ku rasanya sakit sekali. Mungkin karena waktunya yang lama dan aku belum terbiasa bermeditasi selama itu.

Seperti biasanya, setelah meditasi selalu merasa segar dan tenang. Tidak mudah marah, easy going, lebih bergairah, dan fokus. Biasanya aku suka deg-deg an kalau punya banyak deadline tugas. Setelah kembali rutin meditasi mindfulness lagi, aku sudah tidak deg-deg an. Dengan begitu, aku bisa lebih fokus dan tenang mengerjakan tugas-tugas ku.

Ohya, aku juga pernah menulis tentang meditasi mindfulness ini. Silahkan berkunjung kesini kalau kalian ingin membacanya dan ulasan buku tentang praktik meditasi mindfulness bisa dibaca di sini .

Selamat mencoba, dan rasakan manfaatnya!..



Selasa, 24 September 2019

Apa yang Salah Dengan Cinta?. Nasib Cinta Pascamenikah

September 24, 2019 1 Comments



Dikutip dari kumparan (kumparan,2018), pada tahun 2015 berdasarkan data dari Kemenag ada 398.245 gugatan. Terdiri dari 113 ribuan gugatan talak oleh suami dan 281 ribu lebih oleh istri. Pada tahun 2017 meningkat menjadi 415.898 gugatan cerai. Merdeka.com ,2016 mengatakan bahwa satu dari sepuluh pernikahan di Indonesia berakhir dengan  perceraian. berdasarkan riset yang dilakukan oleh pembelajaranhidup.com, 65 persen responden dari total 248 responden di Indonesia merasa tidak bahagia dengan pasangannya dan relasi antara pasangan suami istri kian memburuk seiring dengan bertambahnya usia pernikahan mereka. 

Kalau dilihat dari data diatas, angka perceraian semakin meningkat setiap tahunnya. Lalu dimanakah letak cinta yang menjadi alasan menikah? apakah cinta berdurasi? atau mungkinkah salah memilih pasangan?. 

Merujuk dari buku Deny Hen, The Great Marriage, memaparkan bahwa sebaik apapun hubungan diawal pernikahan, tidak menjamin hal tersebut menjadi patokan untuk kelanggengan pernikahan. Umumnya bulan madu pernikahan dapat dinikmati sekitar satu sampai tiga tahun saja.


Setelah itu, tanpa pengetahuan yang cukup mengenai pernikahan yang sehat serta usaha untuk mempertahankannya, pasangan sering terjebak dalam loveless marriage (pernikahan tanpa cinta) atau sering disebut dengan empty love (cinta yang kosong). 

Deny Hen menuliskan bahwa setidaknya ada 3 hal yang menyebabkan cinta padam dan hubungan semakin dingin seiring bertambahnya usia pernikahan, yaitu:


1. Problem dengan cinta romantis.



Cinta romantis atau passionate love adalah rasa kecenderungan / rasa suka, perasaan tertarik yang kuat kepada seseorang. didasari oleh perasaan, dan perasaan mudah sekali berubah.  Dr. Fred Nour dalam bukunya True Love; How To Use Science To Understand Love, memaparkan bahawa cinta romantis hanya berlangsung sampai dua/tiga tahun saja. Dalam pernikahan, passionate love tidak bertahan lama dan harus segera di transformasikan menjadi cinta yang lebih realistis (true love).





pinterest



2. Kelahiran si sulung.

Prof. James C. Dobson, seorang profesor dan psikolog dari Amerika memaparkan bahwa hubungan pasangan suami istri mencapai titik balik saat anak sulung lahir. Ketika anak sudah remaja, hubungan mereka sulit untuk kembali seperti dulu.  



Kelahiran anak akan menjadi salah satu penyebab jika tidak bisa membagi waktu dan mengontrol emosi dengan baik. Istri yang sudah menjadi ibu akan disibukkan dengan urusan anak selama 24 jam, urusan rumah, urusan pekerjaannya dan besar kemungkinan berkurang waktu dan perhatian tidak sepenuhnya lagi hanya pada suaminya. 

Disaat yang sama, seorang suami yang sudah menjadi ayah akan bertambah tanggungannya. Secara moral dan materi. Ia disibukkan dengan pekerjaan yang sudah memasuki tahap penting, disibukkan dengan perhatian kepada anak, memerhatikan dirinya sendiri dan kemungkinan waktu dan perhatian akan berkurang pada istrinya.

                                               Baca juga: Menuju Halal; Provokasi atau Edukasi

Akibatnya keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Waktu bersama berkurang, emosi merenggang dan mulai mencari pelarian. Mencari pelarian melalui hobi, mengurus anak, di luar rumah dan bahkan bisa sampai menimbulkan bibit-bibit perselingkuhan. 

Menurut Deny Hen, hal-hal seperti ini harusnya dibicarakan dan dipikirkan sebelum melangkah untuk menikah. Supaya ketika menghadapinya, sudah memiliki gambaran dan ilmu. 



pinterest


3. Tekanan hidup sehari-hari.


Rumah seharusnya menjadi tempat untuk pulang dan melepas penat. Rumah harusnya menciptakan suasana aman dan nyaman untuk mengisi kembali daya yang sudah habis setelah bekerja. Pada nyatanya rumah pun bisa menjadi sumber stress. Entah karena masalah anak, pasangan, antar menantu dan mertua, ekonomi, semua berpotensi untuk membuat suasana dirumah panas, sehingga suami dan istri saling merasa tidak dicintai. 

3 hal diatas akan di perparah dengan kurangnya informasi dan pendidikan pernikahan yang sehat dan rasa enggan mencari bantuan.

pinterest


Dari ketiga hal diatas, sudah menggambarkan bagaimana dinamika yang ada dalam kehidupan pernikahan. Jangan sampai kita hanya fokus pada persiapan pesta pernikahan impian tapi begitu sepele dengan persiapan untuk menghadapi hari-hari, bulan-bulan, bahkan tahun-tahun setelah pesta itu berlalu.  Jadi, mulai mempersiapkan ilmu dan mental untuk menghadapinya. dengan membaca buku, mengikuti kelas pra-nikah, kelas manajemen emosi atau pengembangan diri, dan belajar apa saja yang mendukung untuk menjadi bekal di masa depan.


siklus hormon kalau lagi jatuh cinta





Referensi: 

Hen, Deny, (2018). The Great Marriage. Jakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama.



Senin, 23 September 2019

Menuju Halal; Provokasi atau Edukasi.

September 23, 2019 2 Comments



Di usia 23 tahun ini, banyak sekali hal-hal yang harus ku perhatikan dan semakin kompleks. Mulai dari menentukan perjalanan selanjutnya, menyambung pendidikan lagi atau memulai karir, menikmati dan mengeksplor passion dan mulai terpikir tentang pernikahan. 


Bahasan kali ini terfokus pada tentang pernikahan. Sepanjang tahun akhir 2018 sampai 2019 ini, sudah banyak sekali mendapat kabar dan undangan teman-teman yang akan menikah. Sejauh ini memang nggak ada pikiran yang gimana-gimana, nggak ada pikiran "aku kapan ya?"sambil meratap nasib, sejauh ini belum ada dan ikut berbahagia dengan kabar bahagia mereka. 

Aku sering bertanya kepada teman-teman yang sudah menikah, "kenapa kamu yakin sama dia?". Pertanyaan itu selalu menjadi pertanyaan pertama yang aku tanyakan dan tentunya setelah memberi selamat dan mendoakan kebaikan untuk teman-teman tersebut. Jawabannya beragam. Ada yang yakin karena memang sudah lama berpacaran, dan banyak hal lain yang mempengaruhi keyakinan mereka untuk memutuskan seseorang yang semulanya asing dan menjadikannya pasangan. 

Selain kabar bahagia, ada juga kabar-kabar yang kurang menyenangkan yang ku dapatkan. Misalnya seseorang yang memutuskan tidak mau menikah karena trauma dengan pernikahan orang tuanya, ada juga yang mengabarkan kalau ia ingin bercerai, dan ada juga yang terang-terangan memberitahu dia telah bercerai berikut dengan alasannya. Tentu hal-hal seperti ini pasti menimbulkan pertanyaan besar di kepalaku. 

Tentang mengapa bisa memutuskan bercerai, padahal dulu saling mencintai. Apa cinta ada durasi nya?, kalau cinta berdurasi, apa kabarnya kakek-nenek kita yang sudah menikah puluhan tahun dan tetap bersama hingga tua?. Bagaimana agar tidak salah pilih pasangan?, pokoknya banyak pertanyaan yang bermunculan. 

Belum lagi melihat fenomena nikah muda, apa mereka benar-benar sudah teredukasi atau hanya terkena provokasi?. Nah kalau yang ini orang lain nggak bisa nge-judge, hanya bisa dirasakan oleh yang menjalaninya langsung. 

Ngomong-ngomong provokasi atau edukasi, dulu awal gerakan nikah muda ini booming, banyak sekali gerakan-gerakan yang muncul untuk mendukung nikah muda. Kalau dibilang salah sih, enggak. Tapi ada beberapa dan nampaknya banyak yang hanya provokasi tanpa adanya edukasi. Misalnya memposting foto mesra pasangan muda tanpa menghadirkan caption atau keterangan yang memberitahu persiapan nya.

 Hasilnya adalah, timbullah slogan hijrah, nikah, berkah atau sebagainya. Jadi orang "hijrah" motivasi selanjutnya bukan lagi dakwah, tapi nikah. Dengan memposting foto dengan hijab syar'i dan caption "akhi, take me to Jannah. Untungnya sekarang sudah banyak juga gerakan untuk mengedukasi tentang menikah. Contohnya kalau di Jogja, ada Teh Bunga Erlita yang kalau ikut kelasnya, dijamin gak bakalan baper. Gak bakalan. Karena disana yang dipaparkan ke kita bukan hanya angan-angan bahagia saja, tapi juga realita. Jadi lebih memikirkan persiapan daripada sibuk membangun angan.

                            Baca juga : Apa yang Salah Dengan Cinta? Nasib Cinta Pascamenikah

Nikah muda sudah ada sejak dari zaman dulu, bedanya dulu ada persiapan nya. Kakek-nenek kita sudah dididik dan di persiapkan orang tuanya untuk menikah. Persiapan nya sesederhana mulai tanggung jawab dengan pekerjaan rumah, memasak, dan menjaga adik bagi perempuan, dan ikut bekerja keras, bagi yang laki-laki. Mengutip dari ceramahnya ibu Elly Risman, generasi mereka dulu lupa mempersiapkan anaknya untuk menjadi suami, istri, dan orang tua, dan lebih fokus pada menjadi ini dan menjadi itu. Tentu ya tidak semua, dan buktinya masih ada yang sukses kedua-duanya. 

Kembali ke pertanyaan awal, tentang mengapa bisa memutuskan bercerai, padahal dulu saling mencintai. Apa cinta ada durasinya?, kalau cinta berdurasi, apa kabarnya kakek nenek kita yang sudah menikah puluhan tahun dan tetap bersama hingga tua?. Bagaimana agar tidak salah pilih pasangan?. 

Akhirnya setelah membaca beberapa buku dan ikut seminar Pra-nikah, akhirnya ku temukan jawabannya dan akan ku bagikan melalui tulisan di blog ini. Supaya ilmu tidak disimpan sendiri dan manfaat.  

So, stay tune yess. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semuwaaa.... 


pinterest





Jumat, 20 September 2019

(Review Buku ) Calm; Rileks, Fokus dan Ubahlah Duniamu

September 20, 2019 1 Comments

Sinopsis
****

Kehidupan modern itu sangat melelahkan. mari mencoba revolusi calm. kereta datang terlambat, notifikasi email tanpa henti, daftar pekerjaan yang tidak berujung, tidak ada yang  lebih penting daripada berhenti, mengisi ulang daya, dan menemukan kembali momen tenang.
Termasuk saja semua orang dapat mencapai ketenangan termasuk anda. dan didalam buku ini anda akan belajar bagaimana mengambil waktu untuk merasakan ketenangan, jarak, dan semua hal yang penting untuk dirimu sendiri. Dengan kombinasi kreativitas yang menggugah, aktivitas, intruksi, dan inspirasi, calm akan membuka mata kita untuk menemukan kesenangan dan kekayaan dalam hidup sehari-hari.

Buku ini sudah lama nangkring di rak buku. Tertutup dengan buku-buku baru dan list-list bacaan yang menumpuk juga untuk segera dituntaskan. Akhir- akhir, ini aku memang sedikit mengalami kebosanan, ketidaksiapan akan banyak hal dan sepertinya membutuhkan jeda untuk memperbaiki dan memperbaharui pola pikir dan gaya hidup. Teringatlah kalau pernah beli buku Calm, lalu membacanya. Setelah menghabiskan lima halaman barulah terasa kenapa tidak membukanya dari pertama kali dia di beli.

Buku Calm ditulis oleh Michael Acton Smith. Terinspirasi dari kebosanan dan kepenatan penulis dengan rutinitas yang dijalaninya. Kemudian ia mengambil jeda untuk bepergian ke berbagai tempat, negara dan bermeditasi, lalu kembali lagi ke negaranya dan mengagas sebuah gerakan Calm yang bertujuan untuk membantu orang-orang dalam menemukan ketenagan dalam gejolak tuntutan dan permasalahan kehidupan.

Buku ini berisi panduan dan tips-tips untuk mempraktikkan meditasi dan mindfulness untuk mecapai ketenangan dan meningkatkan kualitas hidup. Buku ini terdiri dari 7 bagian, yaitu:

1. Alam

Menghabiskan waktu di alam adalah jalan pintas menuju ketenangan. Begitu salah satu kutipan yang ada didalam buku ini. Menghabiskan waktu untuk berjalan- jalan diantara pepohonan, merasakan bertelanjang kaki di tanah dan rumput, menikmati setiap deburan air terjun, membiarkan kaki di basahi ombak pantai, dan kegiatan yang bersinggungan dengan alam lainnya bisa menjadi jalan untuk menemukan ketenangan. Setelah hari- hari kerja yang penat, cara menenangkan diri seperti ini memang tepat. refreshing kata orang, hehe..





2. Tidur

Bab ini menjelaskan bagaimana cara tidur yang efektif secara kualitas dan kuantitas. Ada juga panduan- panduan untuk tidur yang akan  benar- benar membuat segar kembali. Jadi, tidur tidak hanya sebagai pelepas kantuk, tapi menyadari betul manfaatnya pada tubuh dan mental.




                Baca juga: Belajar Meditasi Mindfulness; Belajar Hidup yang "Here and Now."

3. Perjalanan

Sebelum notifikasi dan peranti elektronik  menjadi musik latar kehidupan seperti saat ini, perjalanan telah memberi ruang tersendiri untuk manusia. Seperti para pelancong berkesempatan untuk melamun, memperhatikan orang, membaca novel, dan menyapa orang lain. Sekarang mudah sekali memecah itu semua. hanya dengan keinginan update dan suara notifikasi, perjalanan menjadi minim makna.


4. Hubungan

Setiap orang selalu mendambakan seseorang yang dijadikan tempat pulang. Melepas penat, menyampaikan perasaaan. Tetapi dengan kisruhnya suasana hati, terkadang membuat kesulitan untuk menyampaikan perasaan dengan baik. Ada solusinya?. Ada. Meditasi. Kalah satu manfaat dari meditasi adalah mampu terampil menyampaikan isi pikiran dan perasaan. Karena otak dalam kondisi tenang.






5. Pekerjaan

Dalam bab ini, ada panduan meditasi body scan yang berguna untuk membantu menghadapi hari-hari. Disamping hal materi, ada hal- hal non materi yang harus tetap terjaga. Seperti fokus, kesederhanaan, relativitas dan istirahat.



6. Anak-anak

Dari dulu yang paling aku kagumi dari anak-anak selain pantang menyerah, adalah kemampuan imajinasi mereka. Anak-anak mampu mengimajinasikan kursi kosong menjadi sebuah gerbong, atau truk. Anak- anak juga menikmati dan menyadari betul permainannya, menghidupi betul momen-momen yang mereka alami sepenuhnya. Sewaktu kecil dulu, kita  (khususnya saya,hehe)  juga begitu. Tetapi semakin dewasa, rasanya mudah sekali lupa dengan hal-hal sederhana yang bermakna.




7. Makanan

Bab ini menjelaskan bagaimana makanan mempengaruhi kondisi psikis kita. Mulai dari pemilihan bahan, cara memakan, tempat makan, tataan meja makan, dan ritual nge-teh yang mungkin sudah sering dilakukan banyak orang.




Oyaa.. buku ini juga penuh warna-warna yang memanjakan mata ,ada juga tips-tips, dan kolom untuk jurnal harian. jadi kita benar-benar menikmati kejadian- kejadian hari ini.


Kolom ini bisa jadi jurnal harian. Sangat membantu sekali untuk lebih peduli pada setiap momen yang terjadi sehari-hari.




Sekaian dulu, selamat membaca.


Kamis, 19 September 2019

Pesan Rando Kim Untuk yang Sedang Menuju Kedewasaan

September 19, 2019 0 Comments








Rando Kim adalah seorang profesor di Seoul National University, Korea. Ia aktif  mengajar dan menulis buku-buku pengembangan diri, salah satu buku nya yang menjadi best seller di Korea adalah Amor Fati; Cintai Takdirmu.

Buku ini ditujukan untuk siapapun sedang goyah dan berdiri diambang pintu kedewasaan. Perbincangan tentang menuju dewasa memang tidak ada habisnya, karena untuk menjadi dewasa memang tidak mudah.


Dewasa dapat diukur dari dua hal yaitu usia dan pemikiran. Seseorang yang menginjak usia dewasa belum tentu memiliki pemikiran yang dewasa, dan sebaliknya seseorang yang sudah memiliki pemikiran dewasa belum tentu sudah dewasa secara usia.


Dewasa secara usia adalah hal yang pasti di alami dalam perkembangan manusia. Hurlock (1986) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada saat usia menginjak 18 tahun sampai dengan 40 tahun. Usia dewasa dibagi menjadi 3 fase, yaitu dewasa awal, madya, dan akhir. Sebagai mana dewasa secara usia adalah fase yang pasti dalam perkembangan manusia,dewasa secara pikiran bukanlah jaminan yang didapatkan ketika seseorang menginjak usia dewasa.


Dewasa secara pemikiran adalah tentang kematangan berpikir, kematangan dalam mengambil keputusan, dan kematangan dalam menyikapi permasalahan. Namun diharapkan, seseorang yang sudah menginjak usia dewasa seharusnya juga ia sudah memiliki kematangan berpikir.



                                             Baca jugaSurga Kecil di Perairan Sibolga 

Untuk kamu yang sedang goyah dan sedang berproses menuju dewasa, 5 pesan Rando Kim ini bisa menjadi renungan sekaligus penguatan.

















Hmmmmm.... tarik nafas panjang, lalu renungkan kutipan diatas. Semoga kutipan- kutipan tersebut mampu meyakinkan diri kita ya guyss.. Terkadang kita memerlukan penguatan untuk bisa mengerti kalau kita baik- baik saja.