Follow Us @soratemplates

Minggu, 20 September 2020

Gagal dan Arti Belajar.

September 20, 2020 0 Comments


Adalah gagal yang kusebut belajar. Sebelumnya setiap usaha yang belum menyentuh harapan, kusebut gagal. Setiap percobaan yang belum berhasil, kuucapkan pada diri sendiri, kamu gagal. Hingga kata gagal memenuhi kepala, membatasi ruang gerak dan menjadi bahaya ketika karena hal tersebut membuatku berhenti mencoba. Ketakutan ketakutan irasional memenuhi kepala dan tentunya memberi rasa nyeri di dada. Kenapa aku begini? adalah kata yang sering kulontarkan di depan kaca, melihat diriku sendiri. Nanar dan penuh benci.

Suatu ketika, dalam kenikmatan membaca buku Sudjiwo Tedjo, kudapati kalimat yang menampar habis pikiran irasionalku, mengikis perlahan rasa takutku. katanya, gagal adalah cara manusia memaknai kehendak Nya yang bukan kehendaknya. kurenungi kata kata penulis buku Tali Jiwo itu. Benar. Terkadang aku memaksa kehendakku, yang mungkin bukan kehendak Nya. Yang lebih parahnya lagi aku memaksa Nya untuk mengizinkan kehendakku. Hingga ketika hal tersebut memberi efek buruk, aku kembali bertanya pada Nya, "Tuhan, Engkau tidak sayang aku, ya?." Bisa dan sangat mungkin untuk Nya menjitak kepalaku saat itu juga. Tapi yang kukenal, Tuhanku amat sangat penyayang. 

Terkadang aku suka lupa apa yang kupanjatkan dalam doa, hingga ketika Tuhan ingin menyetujuinya, lalu Ia memantaskanku untuk layak menerima hal tersebut, tapi aku malah marah-marah, mengeluhkan kenapa tidak langsung diberi saja. Sungguh hamba yang membingungkan. Hingga kuseruput kopi pagi ini dan aku menertawakan diri sendiri. Buru-buru minta maaf sudah berburuk sangka, dan menyadari menjadi layak itu penting sekali. coba bayangkan, kumiliki semua yang kuminta, tapi secara kemampuan aku tidak layak menggenggamnya, bisa-bisa dia hanya menjadi bahagia yang semu, kepemilikan yang semu, bahkan lebih mengerikan ketika semua itu menghancurkanku. Kesempatan berbanding lurus dengan persiapan, jika kedua ada dalam dirimu, maka kelayakan ada padamu. 

Sekian cerita dari secangkir kopi hari ini. 


Minggu, 13 September 2020

Titik Balik dan Perjalanan Upgrade Diri

September 13, 2020 0 Comments



Menuju dewasa adalah fase yang membingungkan bagi sebagian orang. Perubahan prioritas, lingkar pertemanan, tuntutan yang kian banyak dan tak jarang mengalami kebingungan akan tujuan hidup itu sendiri. Dari sebagian orang tersebut, saya adalah salah satu diantaranya. Memasuki usia kepala dua tidak sesemarak yang saya bayangkan, dulu saya pikir ketika usia saya sudah menginjak kepala dua saya akan lebih mudah menjalani hidup, bebas memilih dan menentukan, bekerja sesuai apa yang saya inginkan, dan lain-lain. Nyatanya usia dua puluhan tidak semurah hati itu. Nyatanya memang saya bebas memilih dan menentukan, tetapi menentukan bagi orang dewasa tidak sesederhana menentukan bagi seorang remaja. Saya mengalami banyak kebingungan dan tidak jarang meragukan kemampuan saya sendiri. 

Hingga sampai pada puncaknya saya merasa tidak ada yang bisa membuat saya bahagia, mudah kesal dengan pencapaian orang lain apalagi hal tersebut adalah hal yang ingin saya gapai. Tidak pernah mau memberikan kata selamat pada orang lain ketika orang tersebut meraih mimpinya, bahkan pada teman dekat saya sendiri. Saya menyadari ada hal yang salah dalam diri saya, waktu itu salah satu cara saya untuk menemukannya adalah dengan menarik diri dari lingkungan sosial, mendekam di kamar selama sebulan bersama kopi dan tumpukan buku yang saya baca habis dan hanya keluar kamar jika memiliki kepentingan seperti makan dan keperluan ke kamar mandi. Sebagian teman-teman mengatakan yang saya lakukan tersebut tidak perlu dan jalan awal menuju depresi, katanya. 

Selama satu bulan tersebut saya banyak menghabiskan buku, dari buku perkembangan diri, novel sampai buku agama. Dari salah satu buku yang saya baca adalah Calm, karya Michael Anton Smith. buku ini membahas tentang mindfulness. Dari sana saya menemukan pandangan baru tentang menjalani hidup dan keinginan kuat untuk berubah dari kondisi ini. Lagi-lagi saya bingung dan ingin segera tahu bagaimana cara agar saya berubah. Saya percaya ini tidak sebuah kebetulan, saya melihat-lihat isi media sosial seorang teman dan sampai pada satu foto dimana dia mengikuti kegiatan di Kuncoro Leadership Training and Consulting®. Saya terpukau pada tagline dalam banner acara tersebut "Bersama Kami Temukan Diri Anda yang Baru." Tanpa pikir panjang saya langsung mencari media sosial Kuncoro Leadership Training and Consulting® dan menghubungi admin untuk menanyakan program terdekat mereka. 

Saya mendapatkan informasi bahwa agenda terdekat mereka adalah pelatihan hipnoterapi. Berhubung pelatihan ini erat hubungannya dengan bidang yang saya geluti yakni Psikologi, saya langsung mendaftar dan mengikuti pelatihan tersebut. Singkat cerita dari pelatihan hipnoterapi tersebut saya mulai ketagihan belajar dan mengembangkan diri saya. Saya seperti memiliki hobi baru yaitu mengikuti program yang diadakan Kuncoro Leadership Training and Consulting®. Sampai pada tahun 2018, saya ingin mengikuti program Training for Trainers tahun tersebut, namun karena melihat begitu padatnya kegiatan TFT membuat saya mengurungkan niat, lalu menyesali keputusan saya tersebut. Saya pun berjanji pada diri saya sendiri akan mengikuti pelatihan ini suatu saat nanti sembari saya mempersiapkan diri dan mental untuk mengikutinya. 

Sampai pada penghujung 2019, saya pun mendaftarkan diri saya untuk mengikuti Training for Trainers. Mengikuti TFT banyak memberikan warna dan nilai baru dalam hidup saya. Ekspektasi saya dengan mengikuti Training for Trainers saya akan mendapatkan setidaknya 7 hal baru yang bisa saya pelajari yaitu:

1. Mempelajari ulang tentang Hipnoterapi.

2. Mempelajari ilmu Neuro Linguistic Programming yang katanya adalah ilmu menjalani hidup.

3. Menemukan diri saya yang baru.

4. Mendapatkan teman-teman yang lebih baik daripada saya. Karena saya yakin Training for Trainers tidak akan diikuti oleh orang malas dan tidak mau maju. 

5. Berguru dari seorang pembelajar sejati.

6. Kemampuan public speaking.

7. Nilai-nilai baru dalam hidup.

Ketujuh hal tersebut saya dapatkan dan saya mendapatkan banyak sekali hal lain sebagai bonusnya. Tetapi yang paling saya syukuri adalah perubahan dari diri saya, merasa bodoh dan keinginan untuk terus belajar. Rasanya apalagi hal yang terindah dalam hidup selain menyaksikan diri berkembang menjadi lebih baik dan pikiran yang senantiasa disibukkan oleh belajar. 

Sekarang, pelan-pelan saya menerapkan setiap nilai dan pelajaran yang saya dapatkan dari Training for Trainers dalam hampir segala aspek dalam hidup saya, sampai pada hal sesederhana hari ini saya ingin melakukan apa saja. Saya menyadari bahwa perbaikan diri adalah usaha panjang dari hari demi hari dan kepala saya adalah hal pertama yang menjadi tujuan investasi.