Follow Us @soratemplates

Minggu, 27 Oktober 2019

Buku Bajakan ; yang Kamu Lakukan Itu Jahat!

Oktober 27, 2019 0 Comments



Dilansir dari Liputan 6, pada tanggal 21 Agustus 2019, KPJ (Konsorsium Penerbit Jogja) melaporkan perkara pembajakan buku ke POLDA DIY. Di kota pelajar ini, dimana jumlah toko buku sangat banyak sekali dan toko buku di Yogyakarta sangat sering sekali mengadakan diskon besar-besaran.  Ternyata masih ada saja segelintir orang yang tidak memanfaatkan fasilitas itu. Terbukti dengan masih banyaknya jumlah pembeli di salah satu lokasi di Yogyakarta yang dimana di sepanjang jalannya berjejer toko buku bajakan.

Pernah saya iseng mendatangi toko buku bajakan itu dan melihat-lihat buku yang di jual dengan harga miring yang cenderung banting. Artinya, sangat murah sekali. Padahal, untuk terbitnya sebuah buku, banyak tangan-tangan yang ikut campur didalamnya. Ada penerbit beserta orang-orang yang didalamnya, editor, percetakan, dan penulis sang pemiliki ide. Jadi, sudah terbayang kan, berapa hak orang yang kita pangkas jika nekat membeli buku bajakan.

Kertas buram dan tulisan tidak jelas

Berbicara kualitas fisik, buku bajakan memang rendah sekali. Kertas yang buram, tulisan yang kekurangan tinta, mudah sobek, dan tentu yang menggiurkan adalah harga nya yang sangat murah. Beberapa orang pernah saya tanya mengapa ia tertarik membeli buku bajakan, jawabannya adalah dengan harga yang murah kamu bisa mendapatkan ilmu dan isi yang sama dengan harga yang mahal. Mbok, jangan egois, to


Pinterest
       Baca juga: (Review Buku) Senandung Talijiwo; Mengolah Keluhan Menjadi Senandung.

Harga menjadi kendala

Saya sangat paham, harga adalah salah satu penyebab gerai toko buku bajakan ramai peminat. Tetapi sebagai seorang pembelajar yang rajin menyantap buku, harusnya kita mempunyai cara untuk mengatasi ini. Sisih kan uang jajan dan menabung untuk membeli buku yang kita inginkan bisa menjadi alternatif. Jika ingin membeli dengan harga miring, banyak, lho, toko buku fisik ataupun online yang rajin mengadakan diskon besar-besaran. Seperti penerbit Mizan yang dalam bulan ini, baru saja mengadakan diskon. Manfaatkan itu.


Pinterest


Peluang bisnis

Jika dilihat dari segi peluang berbisnis, bisnis buku bajakan memang sangat banyak meraup keuntungan. Hal itu hanya bagi satu pihak. Pihak yang lain, seperti penerbit, justru mendulang kerugian. Umumnya buku bajakan dijual mulai dari kisaran harga Rp 10.000 sampai Rp 50.000, dan buku original sekitar Rp 76.000 sampai Rp 500.000, jika buku bajakan itu banyak dibeli, berarti penerbit menanggung kerugian yang besar. 


Pinterest

Yuk, hargai karya penulis

Dalam menciptakan sebuah buku, penulis adalah orang paling banyak berkorban. Dimana penulis harus mencari ide, mengolah ide menjadi tulisan, terkadang penulis harus melalui saat-saat tersulit dalam hidupnya yang kemudian ia tuangkan menjadi tulisan. Namun dengan enteng dan enaknya para pembajak buku mencuri karyanya dan dijadikan lahan bisnis, dimana penulis tidak mendapatkan sepeser pun keuntungan dari bisnis itu. Bagi pembaca, yuk, belajar menghargai karya orang lain dengan tidak membeli buku-buku bajakan. siapa tahu, suatu saat nanti kamu menjadi penulis, kamu akan tahu bagaimana pedih nya melihat bajakan buku kita bertebaran dengan harga yang miring sekali. 

Satu hal yang ironi sekali, dimana aparat begitu ganas merazia genre buku tertentu yang katanya sesat, tapi mengapa tak bergerak untuk merazia buku bajakan. Mengapa, oh mengapa. 




Jumat, 25 Oktober 2019

(Review Buku) Senandung Talijiwo, Mengolah Keluhan Menjadi Senandung.

Oktober 25, 2019 3 Comments


Sujiwo Tejo kembali merilis buku terbarunya pada April 2019. Kali ini berjudul Senandung Talijiwo. Buku ini menceritakan banyak hal seperti politik, masyarakat, dan tentu saja tidak lupa untuk bercerita tentang cinta. Dua orang tokoh utama dalam buku ini adalah Sastro dan Jendro. Sastro dan Jendro menjadi peran yang membawakan apapun cerita dalam buku ini.

Terkadang mereka menjadi sepasang kekasih, terkadang juga menjadi sebatas mantan kekasih yang sudah memiliki kehidupan masing-masing, menjadi tetangga, sampai menjadi sebatas ojek online dan penumpangnya. Jangan bingung, diantara Sastro dan Jendro, Jendro adalah seeorang perempuan. Jendrowati, namanya.

Politik

Bagian dari cerita di buku Senandung Talijiwo ini adalah isue- isue politik. Kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia diantara tahun 2018 sampai 2019. Semuanya di kemas dengan apik dan menggelitik. 

"Protes terbesar pada sesuatu bukan teriak-teriak sampai bakar-bakaran ban. Itu masih cemen. Puncak protes tertinggi  dan tersuci terhadap sesuatu adalah tak sudi lagi membicarakannya walau cuma sehuruf."( Hal; 88)


                      Baca juga: Pesan Rando Kim Untuk yang Sedang Menuju Kedewasaan

Masyarakat 

Cerita yang diperankan Sastro dan Jendro banyak juga yang berkisah tentang kondisi masyarakat saat ini. kejadian-kejadian unik yang ada di masyarakat kita, seperti seorang ibu kaya yang nyawer uang, dan beberapa kejadian menggelitik lainnya. Kalian pasti terbahak. 

"Manusia harus saling mengingatkan kepada kebaikan karena hutan, gunung, sawah dan lautan hanya bisa mengingatkan kita pada mantan." (Hal ;77)



Cinta

Meskipun cerita tentang cinta mendominasi disini, tapi jangan pikir ceritanya jadi menye-menye. Bisa dikatakan, di buku ini banyak mengungkap bagaimana semestinya mencintai dan bagaimana cinta bekerja. Ohya, cerita cintanya Sastro dan Jendro selalu membuat klepek-klepek, jadi, awas baper yahhhh!. Heheheu.

"Ternyata mencintai bukanlah cara untuk berbahagia. Mencintai tak lain cuma percobaan-percobaan kecil untuk melukai diri agar kelak tabah menghadapi luka-luka yang lebih besar, Kekasih." (Hal ;24)

"Kalau tak kita peduli , Kekasih, kulit selalu tak mau kehilangan kesempatannya untuk menjadi keriput. Demikian juga dengan umur. Kita perlu terus peduli umur dengan cara tak memperhatikannya sama sekali.  Maukah engkau menjadi saksi uban pertama dalam hidupku?." (Hal; 110) 

(Mawuuuuu), Jawabku dalam hati. Hahaha. 



Suka sekali dengan gaya penyampaian Mbah Jiwo di buku ini. Ngalir dan berisi. Ya seperti di blurb, Mbah Jiwo tidak memposisikan pembaca sebagai pembaca, tapi sebagai teman ngobrol dan buku ini benar-benar seperti obrolan yang sesekali membuatku berpikir "Oh, iya ya. Hmmm."

-----------------------

Judul Buku : Senandung Talijiwo
Penulis       :  Sujiwo Tejo
Penerbit     :  Bentang Pustaka

Rabu, 09 Oktober 2019

Belajar Meditasi Mindfulness; Belajar Hidup Yang "Here And Now".

Oktober 09, 2019 1 Comments




Tanggal 29 September kemarin, aku mengikuti kelas pengembangan diri tentang meditasi mindfulness. Meski sudah sering membaca tentang meditasi ini dan sudah mencoba, aku tetap penasaran dan memutuskan untuk mengikuti kelasnya. Ya, tujuan nya untuk menambah informasi dan meluruskan informasi yang aku punya. Dari kelas ini aku banyak sekali belajar tentang setiap orang memiliki problem nya masing-masing. Pelajaran ini selalu ku dapat karena aku memang cukup sering mengikuti kelas-kelas yang serupa dan menemui hal-hal seperti ini.

Ada satu pelajaran yang sebenarnya sederhana, tapi entah kenapa sulit untuk dilakukan. Apaaa tuuu? Haha. Jujur sama diri sendiri. Yaps, rupanya masih sering juga aku menipu diri sendiri. Jujur dengan diri sendiri itu penting sekali, sesederhana kita jadi tau apa yang kita inginkan dan butuhkan.

                                Baca juga : Mindfulness; Serba-Serbi Mencari Ketenangan

Meditasi mindfulness sudah beberapa kali aku lakukan sebelum mengikuti kelas ini. Dikarenakan aku pindah tempat tinggal, jadi belum menemukan tempat baru yang nyaman untuk melakukannya. Dulu, aku sering bermeditasi di loteng kos, di pagi hari. Udara yang masih segar, angin sepoy- sepoy dan langsung di bawah langit, rasanya menambah ketenangan dan kekhusyukan, hehehu.

Karena sudah lama tidak bermeditasi lagi, ketika memulai meditasi kembali punggung ku rasanya sakit sekali. Mungkin karena waktunya yang lama dan aku belum terbiasa bermeditasi selama itu.

Seperti biasanya, setelah meditasi selalu merasa segar dan tenang. Tidak mudah marah, easy going, lebih bergairah, dan fokus. Biasanya aku suka deg-deg an kalau punya banyak deadline tugas. Setelah kembali rutin meditasi mindfulness lagi, aku sudah tidak deg-deg an. Dengan begitu, aku bisa lebih fokus dan tenang mengerjakan tugas-tugas ku.

Ohya, aku juga pernah menulis tentang meditasi mindfulness ini. Silahkan berkunjung kesini kalau kalian ingin membacanya dan ulasan buku tentang praktik meditasi mindfulness bisa dibaca di sini .

Selamat mencoba, dan rasakan manfaatnya!..