Follow Us @soratemplates

Minggu, 19 Januari 2020

Jembatan Plunyon Kali Kuning, Kaliurang.

Januari 19, 2020 2 Comments



Jogja memang nggak pernah ada habisnya kalau bicara tempat wisata baru. Meskipun 
Jembatan Plunyon ini bukan destinasi wisata baru, tapi tempat wisata ini baru di renovasi. Tahun 2016, waktu pertama kali ke sini, Jembatan Plunyon masih jembatan rusak, di bawahnya mengalir air deras dan bersih, masih ada batu-batu besarnya. Nah, ketika berkunjung ke Jembatan Plunyon pada Januari 2020 ini, tempat wisata ini banyak sekali perubahannya.

Meskipun tidak ada lagi air sungai yang mengalir di bawah jembatan, tetapi ada spot-spot foto yang baru dan instagramable, wkwkwk. lokasi Jembatan Plunyon Kali Kuning ini terletak di Kedungsriti, Umbulharjo, Cangkringan. Pertama kali berkunjung ke Jembatan ini, sebenarnya nggak sengaja. Niat hati mau ke Kaliadem, eh malah nyasar ke Kali Kuning, heheheu. Tapi di kunjungan yang kedua kali ini memang sengaja ingin melihat perkembangan tempat wisata ini yang katanya sudah bagus. Dan benar sekali, sudah bagus, indah, mantap pokoknya.

                                       Baca juga : Watu Purbo Jogja, Air Terjun 6 Tingkat.

Akses jalan ke Jembatan Plunyon ini juga terbilang bagus. Selama perjalanan, kita disuguhi pemandangan Merapi, Kali Kuning, dan mobil Jeep yang sedang persiapan tour ke Merapi. Kalau udara, jangan ditanya lagi, sudah pasti sejuk dan sepoy-sepoy.

Sesampainya di Jembatan Plunyon, kita akan menemukan spot pertama yaitu pohon dikelilingi jembatan jaring-jaring. Dengan view hamparan pohon dan dedaunan hijau. Ini adalah spot terdekat dari area parkir.


Setelah bosan jalan-jalan di sekitar jembatan, dengan nekat dan ikut-ikutan segerombolan anak muda lainnya, aku dan temanku menaiki tangga menuju puncak, ya semacam dataran tinggi nya lah. Disana terlihat jelas kemegahan gunung Merapi dan rona jingga senja (halahhh). Perjalanan menuju puncak ini sedikit jauh dan melelahkan juga, karena banyaknya anak tangga dan tingginya puncak ini. dari atas, tentu seluruh kawasan Jembatan Plunyon dan dam di ujungnya ini terlihat jelas. 


Di kawasan ini tidak ada warung, jadi bawa minum dan makanan dari luar, ya. Perjalanan dari kota menuju Jembatan Plunyon ini sekitar 26 kilometer dari pusat kota Jogja. Uang masuknya sebesar  Rp 6.000. Satu lagi, tempat ini begitu tenang untuk refreshing. Suara gemercik air, angin sepoy-sepoy, dan hangatnya kopi, cocok untuk mengakhiri libur akhir pekan. 




Selasa, 14 Januari 2020

(Review Buku) Sepotong Senja Untuk Pacarku.

Januari 14, 2020 0 Comments
 


.....Alina tercinta,
Bersama surat ini ku kirimkan padamu sepotong senja dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di kejauhan..... 

Akhirnya bisa menuntaskan buku karya Seno Gumira Ajidarma ini. membaca cerita demi cerita yang membuat tersipu, terharu hingga bergidik seram. Buku Sepotong Senja Untuk Pacarku ini berisi 16 judul cerita yang dibagi dalam 3 bab. Diawali dengan cerita tentang Sukab yang mengirimkan sepotong senja untuk pacarnya, Alina. Senja yang diambil dengan perjuangan, hingga dibungkus dan dimasukkan kedalam amplop, lalu dikirimkan atas nama Alina, beralamatkan di ujung dunia. Sepotong senja itu sampai pada Alina setelah 10 tahun kemudian. Kenapa bisa begitu? Sila dibaca bukunya, heheheu.

Dari 16 cerita, ada 4 cerita yang menjadi favorit ku. Tentu saja yang pertama adalah Sepotong Senja Untuk Pacarku. Lalu Jawaban Alina, Hujan, Senja, dan Cinta, Mercusuar, dan Perahu Nelayan Melintas Cakrawala. Setiap judul di buku ini diawali dengan kutipan berbahasa zaman dulu yang menarik dan memberi informasi tentang gambaran cerita pada judul tersebut.

Aku sangat suka bagaimana Seno Gumira Ajidarma bercerita dalam buku ini, manis dan tidak terduga. Ia begitu paham dengan senja. Meskipun  sering menikmati senja, rasanya aku tidak pernah menikmati senja sedalam, sedetail, dan sepenuh sadar ketika menikmati senja dalam cerita Seno Gumira Ajidarma ini. Sampai-sampai ia mendapatkan email dari seorang pembaca buku ini yang rabun senja sejak usia 10 tahun. Dia hanya bisa menikmati senja dari cerita-cerita Seno Gumira Ajidarma dari buku ini.


Selain cerita dan cara penyampaiannya yang ku suka, aku juga suka bagaimana buku ini dikemas. Cukup menggambarkan judul dan cerita di dalamnya. Menjadikan isi buku ini istimewa. Dikemas dengan memasukkan buku kedalam kotak berbentuk kartu pos, seperti benar-benar mendapatkan paket senja dari pacar, heheu.

Buku ini juga dilengkapi dengan sepucuk surat di dalamnya. Konon, surat yang dikirimkan Sukab untuk Alina, pacarnya, sering juga menjadi surat yang dikirimkan seseorang untuk kekasihnya. Jadi, buku ini dilengkapi surat dengan alamat nama yang kosong. Bagus juga buku ini jadi hadiah, hahaha.

Ada yang sudah baca buku ini, belum?
Atau hanya aku saja yang terlambat membacanya, heheheu.

Satu lagi, aku suka prolog buku ini. prolognya adalah syair dan lagu karya Vivekananda Leimena, Seruling di Lembah Sunyi.

---------------
Judul Buku :Sepotong Senja Untuk Pacarku
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama