Follow Us @soratemplates

Selasa, 19 November 2019

(Review Buku) Luka Dalam Bara

November 19, 2019 0 Comments


Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan.Aaku mencintainya karena ia menjadi rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan.
Kata-kata ini telah membuat saya jatuh cinta dan langsung memutuskan membeli buku ini, beberapa tahun lalu. Hehehu.  Buku Luka Dalam Bara ini berisi fragmen-fragmen yang mulanya hanya dituliskan penulis di dalam blognya saja.

Hingga datanglah seorang Mas Teguh Afandi yang mengajak penulis untuk mengabadikan tulisannya dalam sebuah buku. Dulu saya juga berpikir seperti penulis. Bahwa tulisan-tulisan yang berasal dari perasaan, kebingungan, kesedihan, jatuh cinta dan patah hati kita tidak usah menjadi konsumsi publik sehingga cukup kita yang tahu.



Itu juga sebabnya saya tidak terlalu suka membaca buku-buku yang berisi tentang patah hati atau jatuh cinta yang terlalu di kenang. Pelan-pelan dan juga melalui buku ini, saya jadi paham dan memaklumi mengapa buku-buku seperti itu muncul dan laris. Karena dengan menuliskan kembali apa yang kita rasa, akan mengurangi sesak di dada dan tidak memenuh-menuhi pikiran kita. Meskipun ketika menuliskannya kembali, kita berpikir keras dan mengingat-ingat hal-hal yang seharusnya tidak perlu lagi diingat. Tapi itulah proses. Proses penyembuhan.

Kembali ke buku ini. buku ini berasa 85 judul dengan tebal buku 100 halaman. Yang menjadi favorit saya adalah Membaca Novel Sapardi. Begini isinya.




Membaca Novel Sapardi.


Sulit untuk membaca sepotong cerita dalam buku ini tanpa teringat padamu. Sebab sosok perempuan yang menjadi satu dari dua tokoh utama di dalamnya memiliki banyak kemiripan denganmu.  Sebagian kisahnya sudah aku ceritakan kepadamu pada malam sebelum ini. sebagiannya, barangkali, ingin kamu temukan sendiri dalam lembar-lembar bukunya.

Kata orang, saat kita merasa rindu pada sesuatu atau seseorang, alam bawah sadar kita mencetak imaji sesuatu atau seseorang tersebut dalam wujud yang kian hari kian jelas, dan imaji tersebut terproyeksi pada hal-hal yang kita lihat sehari-hari. Kita merasa melihat orang yang kita rindukan diantara kerumunan, di tempat-tempat yang sebenarnya tidak ada dia.

Di buku ini, aku menemukan sepotong dirimu. Entah karena penulisnya memiliki inspirasi yang menyerupai sosokmu, atau aku memang hanya sedang rindu.

Surat-Surat Untuk J

Dalam buku ini, ada 7 surat yang beralamatkan J. ini menjadi favorit, karena mengingatkan saya, Beberapa tahun lalu juga pernah rajin menulis surat beralamatkan nama seseorang. Kemudian berharap suatu hari nanti dia akan membacanya dan meminta untuk di ceritakan tentang surat-surat tersebut. Tapi sayangnya, hingga detik ini surat itu tidak sampai ke tangannya dan tidak akan pernah sampai. 

Rinduu..rindu.. Heheheuu. 



--------------------

Judul Buku : Luka Dalam Bara
Penulis : Bernard Batubara
Penerbit : Noura


Senin, 18 November 2019

Kesatria Cahaya ; Sesuatu yang Ada Pada Manusia.

November 18, 2019 0 Comments



Seperti yang sudah saya paparkan di dalam review buku Kitab Suci Kesatria Cahaya, bahwa menurut penulis buku ini,  Paulo Coelho, setiap kita, setiap manusia memiliki sosok sang Kesatria Cahaya dalam dirinya.

Lalu, seperti apa sih sosok Kesatria Cahaya yang sebenarnya ada di dalam diri kita dan kita belum menyadarinya?

Nah, di tulisan kali ini, saya akan menuliskan beberapa isi dari Kitab Suci ini yang menarik untuk kita baca dan renungkan.

Seorang kesatria memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajari dirinya sendiri. 

"Aneh," kata sang kesatria cahaya dalam dirinya sendiri. "Aku telah bertemu dengan begitu banyak orang yang pada kesempatan pertama, mencoba memperlihatkan kualitas mereka yang paling buruk. Mereka menyembunyikan kekuatan dalam diri mereka di balik sikap kasar dan pemarah; mereka menyembunyikan rasa takut akan kesepian dibalik kesan percaya diri. Mereka tak percaya akan kemampuan mereka sendiri, namun tanpa henti menggembar-gemborkan kehebatan mereka."

Sang kesatria cahaya menangkap kesan-kesan ini dalam diri banyak laki-laki dan perempuan yang dia  jumpai. Dia tidak pernah tertipu oleh penampilan-penampilan luar, dan dia tetap berdiam diri ketika orang-orang berusaha membuatnya terkesan. Dan dia menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya, sebab orang-orang lain telah menjadi cermin yang sangat baik baginya.

Seorang kesatria memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajari dirinya sendiri. 

Sebelum memulai pertempuran penting, kesatria cahaya bertanya pada dirinya sendiri, "Seberapa jauh aku telah mengasah dan mengembangkan kemampuan-kemampuan ku?"

Sebelum memulai pertempuran penting, kesatria cahaya bertanya pada dirinya sendiri, "Seberapa jauh aku telah mengasah dan mengembangkan kemampuan-kemampuan ku?"

Dia tahu bahwa dia belajar sesuatu dari setiap pertempuran, namun banyak dari pelajaran tersebut menimbulkan penderitaan yang tidak perlu. Lebih dari sekali dia telah membuang-buang waktu dengan bertempur demi sebuah dusta. Dan dia pernah menanggung penderitaan demi orang yang tidak layak mendapatkan cintanya.

Para pemenang tak pernah melakukan kesalahan yang sama untuk dua kali. Itulah sebabnya sang kesatria hanya mempertaruhkan hatinya untuk hal-hal yang memang layak di perjuangkan. 


Setiap kesartia cahaya pernah merasa takut untuk terjun ke medan tempur. 

Setiap kesatria cahaya pernah merasa takut untuk terjun ke medan tempur.
Setiap kesatria cahaya pernah, di masa lalu, membohongi atau mengkhianati seseorang.
Setiap kesatria cahaya pernah melangkahkan kaki di jalan yang bukan jalannya.
Setiap kesatria cahaya pernah menderita karena alasan-alasan yang paling sepele.
Setiap kesatria cahaya pernah, setidaknya sekali, meyakini bahwa dirinya bukanlah kesatria cahaya. 
Setiap kesatria cahaya pernah gagal dalam menunaikan kewajiban-kewajiban spiritualnya. 
Setiap kesatria cahaya pernah berkata "ya" ketika dia ingin mengatakan "tidak".
Setiap kesatria cahaya pernah menyakiti seseorang yang dia sayangi. 
Itulah sebabnya ia disebut kesatria cahaya, sebab dia telah melalui semua itu namun tidak kehilangan harapan untuk menjadi lebih baik daripada dirinya yang sekarang.
                                      Baca juga: (Review Buku) Kitab Suci Kesatria Cahaya

Bagi sang kesatria tidak ada cinta yang mustahil. 

Bagi sang kesatria tidak ada cinta yang mustahil. Dia tidak takut akan keheningan, ketakacuhan atau penolakan. Dia tahu bahwa di balik sikap dingin yang diperlihatkan orang, ada hati yang penuh kehangatan. 

Itulah sebabnya sang kesatria mengambil risiko lebih banyak daripada orang-orang lain. Tak henti-hentinya ia mencari cinta dari seseorang, meskipun itu berarti dia akan sering mendengar kata "tidak" dari mereka, pulang dengan jiwa-raga menanggung kekalahan dan perasaan ditolak. 

Sang kesatria tidak membiarkan dirinya dikuasai ketakutan manakala dia sedang mengusahakan apa yang dia perlukan. Tanpa cinta, dia bukan siapa-siapa. 

Kesatria cahaya adalah seorang yang percaya. 

Kesatria adalah seorang yang percaya. Karena dia percaya pada mukjizat, maka mukjizat pun mulai terjadi. Karena dia yakin bahwa pikirannya bisa mengubah hidupnya, maka hidupnya pun mulai berubah. Karena dia merasa pasti bahwa dia akan menemukan cinta, maka cinta yang didambakannya pun  muncul.

Kadang-kadang dia merasa kecewa, sekali waktu pun dia terluka. Kemudian ia mendengar orang-orang berkata "Dia terlalu lugu."

Tetapi sang kesatria tahu bahwa hal itu sudah layak dan sepantasnya. 

Karena untuk setiap penaklukan, dia memiliki dua kemenangan.
Semua orang yang percaya, tahu hal ini.

Dalam pertempuran (kehidupan) yang di jalani manusia, ada banyak hal yang di temukan lalu pergi kembali. Tetapi setiap perjalanan memberikan pelajaran dan kesan. Manusia tidak ada yang sempurna. Selalu pernah tercebur ke lembah hitam dan jurang yang curam. Tapi, bukankan tugas manusia tidak untuk menikmati kekalahan itu semua? Selalu ada cara untuk Bangkit.

Benar kata orang bijak, bahwa perjalanan terjauh adalah perjalanan menuju diri sendiri.

Sekian duluuuu, untuk menikmati isi dari Kitab Suci ini, sila di baca bukunya. Heheheu.




Sabtu, 16 November 2019

(Review Buku) Kitab Suci Kesatria Cahaya

November 16, 2019 0 Comments



Kitab Suci Kesatria Cahaya. Ketika melihat judul buku ini, saya langsung penasaran tentang apa maksud dari kesatria cahaya. Lalu ketika melihat buku ini ditulis oleh Paulo Coelho, saya langsung membelinya tanpa ragu. Dalam buku ini, penulis menyebutkan bahwa kita semua adalah kesatria cahaya. Dan seorang kesatria cahaya terkadang tidak menyadari bahwa mereka adalah seorang kesatria cahaya.

Bagaimana menyikapi setiap kejadian 

Dalam buku ini banyak sekali pelajaran hidup yang di sampaikan Paulo Coelho . Seperti kitab, font tulisan di buku ini juga kecil dan halus. Seperti suatu rahasia yang penting dan harus dijaga. Dari buku ini, saya banyak disadarkan tentang bagaimana manusia, kita, dengan segala ketidaksempurnaan ini harus berjuang dalam pertempuran (hidup). Ada banyak sekali kejadian, keinginan, pertempuran, yang terjadi sepanjang hidup ini. Buku ini mengajarkan bahwa semua itu harus kita rengkuh, terima, dan menjadikan diri ini bangkit untuk menyongsong takdir pribadi kita yang unik. 

Buku ini mengingatkan kembali tentang bagaimana seharusnya kita hidup di bumi. Bagaimana menanggapi kekalahan, ditinggalkan dan kekecewaan. Bagaimana menjadikan sakit sebagai bahan bakar untuk maju dan melejit. 



"Siapakah kesatria cahaya itu?.
"Dia adalah orang yang bisa memahami mukjizat kehidupan, yang sanggup bertahan sampai akhir dalam memperjuangkan apa yang dia yakini, dan mampu mendengar denting-denting lonceng yang diayun-ayunkan gelombang di dasar laut."

"Denting-denting lonceng yang diayun-ayunkan gelombang di dasar laut", setelah membaca keseluruhan buku ini, sepemahaman saya kemampuan ini adalah kemampuan tertinggi yang jika kita punya, setidaknya hidup akan menjadi lebih mudah dan indah. apa itu? Hmmm... coba baca buku ini dulu. Wkwk.

"Kesatria cahaya kadang-kadang berpikir, "Jika aku tidak melakukan sesuatu, maka hal itu tidak akan pernah dilakukan."
                                  Baca juga: Kesatria Cahaya; Sesuatu yang Ada Pada Manusia.

Jika ingin melakukan sesuatu, maka coba lakukanlah. Tetapi jangan lupa, ketika kita bertindak, maka sisakan ruang bagi semesta untuk bertindak juga, kalau tidak begitu ketika gagal kita akan berteman dengan sedih.

Buku ini berisi 149 halaman. Tetapi saya membutuhkan waktu 7 hari untuk membacanya. Karena memang harus diresapi benar-benar, lalu mencoba untuk menerapkan nya dalam kehidupan. Semoga setelah selesai membaca buku ini, kita menjadi kesatria cahaya yang bersinar terang untuk diri sendiri dan orang lain.


---------------------------------

Judul Buku : Kitab Suci Kesatria Cahaya
Penulis        : Paulo Coelho
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama