Review Buku Menari di Tengah Badai

Holaaa, agaknya artikel review buku akan sering nangkring lagi di blog ini. Tentu bukan karena ku yang lagi rajin baca buku hingga selesai. Tapi aku baru menemukan cara menikmati bacaan meski tidak sampai habis. 
Padatnya kegiatan dan minimnya waktu sendiri, membuatku tidak sempat rutin membaca seperti dulu. Duhh alasan lagi. Oke deh kali ini aku ingin review buku self improvement yang berjudul Menari di Tengah Badai karya Sarah Ester.                                   

Review Buku Menari di Tengah Badai


Buku ini di terbitkan oleh Elex Media Komputindo, dengan tebal 165 halaman. Buku ini terdiri dari 40 chapter yang dimana setiap chapter sangat-sangat menggugah sekaligus menampar. Untuk menyelesaikan buku ini aku menghabiskan waktu 3 hari, waktu yang lama untuk buku 165 halaman. Bukan tanpa alasan, bagiku isi buku ini harus benar-benar diresapi dan diamalkan karena sebagai manusia kita selalu berada dalam badai kehidupan, alasan lain selain alasan klasik tadi, waktu hahaha.

Hidup berjalan dari satu gelombang ke gelombang lainnya, dari yang menyenangkan, menggelitik, hingga menggulung-gulung tiada ampun. Untuk itu perlu sekali memiliki kemampuan dasar "menari" untuk tetap hidup dan bahagia dalam gulungan ombak tersebut. 

Buku ini diawali penulis dengan kisah gurunya Ibu Suanna. Dimana sang gurulah yang pertama kali menguatkan hatinya bahwa penulis memiliki tulisan yang bagus. Dari sini aku mendapat pelajaran yang dalam sekali, tentang terkadang aku suka menilai sesuatu berdasarkan apa yang tampak, bukan pada kandungan, isi ataupun substansinya. 

Jika sedikit saja ingin menilai di luar dari penilaian orang-orang, menilai secara manusiawi mungkin akan sedikit orang-orang yang merasa tak berdaya, merasa dirinya kurang, dan perasaan sejenis. 

Bahasa dalam buku ini lembut sekali, menarik ku untuk memikirkan kembali tentang bagaimana aku menyikapi setiap badai yang sudah berlalu, kenapa sempat merasa putus asa, kenapa sempat merasa tak berguna. Menari di Tengah Badai benar-benar mengajari dan menyadarkan ku bagaimana bersahabat dengan badai itu sendiri, memandang jauh ke dalam diri, memandang orang lain dari sisi yang berbeda dan di luar dari kebiasaan orang pada umumnya. 

Lima Guci Kehidupan


Cerita pertama dalam buku ini adalah tentang lima guci kehidupan. Dimana setiap manusia, siapa pun dia telah Tuhan berikan setidaknya lima guci dalam hidupnya. Masing- masing berisi kasih karunia, damai sejahtera, sukacita, kesehatan, dan waktu. di antara yang kelima, guci mana yang sering disia-siakan, ataupun guci mana yang padanya fokus mu tidak seimbang? 

Aku menjawabnya dengan waktu. Waktu adalah hal yang paling sering di buang-buang padahal tidak ada harta yang bisa mengembalikan setiap detiknya yang sudah berlalu. Setiap hari memanglah awal yang baru, sekaligus juga hitungan mundur dari berkurangnya jatahmu. Jadi, bagaimana caranya kelima guci bisa saling mendukung dalam kehidupan, saling mengisi dan bermanfaat bagi diri dan kehidupan itu sendiri. 

Menyerah dalam Perjuangan


Peliknya hidup, kompleksnya masalah yang dihadapi terkadang memanggil-manggil diri ini untuk segera menyerah. Apakah menyerah keputusan yang tepat? Big No. Bayangkan saja jika J.K.Rowling menyerah ketika keadaannya yang buruk, bukunya yang ditolak, sudah dipastikan kita tidak akan menikmati serunya kisah dan ajaibnya Harry Potter.

Kalau Steve Jobs di usia 20 tahun dimana ia seorang mahasiswa dropout, pecandu narkoba, menyerah akan hidupnya, maka kita tidak akan mengenal Apple meskipun belum menikmati produknya, heheh. 

Dan banyak lagi kesulitan yang dialami pembesar saat ini yang mana jika mereka menyerah dalam perjuangan tidak akan ada hal-hal besar yang terjadi. Kita memang tidak pernah tahu akhir dari perjuangan kita. Jadi, jangan menyerah, kalau sudah mentok berbalik arah lah mencari jalan dan cara lain. Yang penting jangan menyerah. 


Review Buku Menari di Tengah Badai


Kebaikan Tuhan


Dalam beberapa waktu setiap manusia mungkin pernah meragukannya. Entah memang wajar atau malah kurang ajar. Sebenarnya jika sejenak saja menyingkirkan ego dan ke-aku-an, pasti bisa merasakan kebaikan dari setiap rencana dan ketentuannya yang bisa jadi cara-Nya tersebut sangat menyakitkan. 

Tuhan Maha Baik, Penyayang dan Pengasih. Tuhan bahkan sudah mencintai manusia semenjak Ia menenun manusia tersebut dalam rahim seorang ibu. Rasa- rasanya tidak ada kejadian sekalipun itu sangat menyakitkan Tuhan abai dari kita, hanya saja saat itu semua terjadi kita tidak mencarinya dan merasakan sayangnya. Satu kata dalam buku ini yang membuat aku terharu, Pulanglah!. Pulanglah pada jalan Tuhanmu. 

Bersyukur


Yaps, bahkan di tengah badai pun ada hal-hal yang harus disyukuri. Ku tuliskan salah satu paragraf dari bersyukur yang ada dalam buku ini, semoga ketika kamu membacanya bertambah syukur dan cintamu pada-Nya.

Sebelum mengeluh tentang makanan di atas mejamu, maukah kamu mengingat mereka yang tidak punya apa pun untuk dimakan?

Sebelum bertengkar karena rumahmu yang kotor, maukah kamu mengingat mereka yang tinggal di jalanan?

Sebelum mengeluh tentang pasanganmu, maukah kamu mengingat masa-masa kamu berdoa meminta pasangan hidup kepada Tuhan?

Sebelum mengeluh tentang hidupmu, maukah kamu mengingat mereka yang sudah berbaring di dalam tanah?
Yuk sempatkan untuk bersyukur sebelum mengeluh. 

Kamu istimewa


Entah harimu sedang hancur-hancurnya, atau kau sedang menilai dirimu tidak ada apa-apanya, merasa ingin menyerah dan tidak seorang pun yang menyayangimu, ingatlah kamu istimewa. istimewa sebagai manusia ciptaan Tuhan yang sempurna. Terkadang memang perlu membandingkan diri untuk mencari benchmark dan meningkatkan kualitas diri, tetapi jika dengan cara itu kau semakin merundung dan tidak maju, maka membandingkan adalah awal kehancuranmu. 

Apa pun yang terjadi padamu, ingat kamu istimewa.  Ingat pada orang lapar yang sudah kau beri makan, ingat pada air mata temanmu yang telah kau bantu hapuskan, ingat orang yang tenang karena pelukanmu, lihat senyum mereka yang merekah karena hadirmu. Bukan, bukan untuk mengungkit kebaikan, dengan mengingat hal-hal tersebut kamu bisa mengingat juga kalau kamu istimewa dan berguna, cuma lagi galau saja. 

Akan Ada Pelangi Seusai Badai


Badai tetaplah badai, pasti berlalu juga. Masalah tetaplah masalah yang pasti memiliki jalan keluar. Aku selalu mengingat klimaks masalah dalam cerita-cerita, semakin kompleks, semakin mencapai puncak klimaks, maka semakin dekat dengan penyelesaian. Hanya saja tokoh utama harus bersabar. Badai apa pun yang sedang kamu hadapi, percayalah sesudahnya pasti ada pelangi. Meski pelan dan samar, percayalah sesudahnya pasti ada pelangi. 


Blubr dan Identitas Buku


Di belahan bumi yang satu, ada sekelompok manusia yang harus berjalan 10 kilometer untuk mencari makan dan bertahan hidup, mengisi perutnya yang sering kali kelaparan. Sedangkan di belahan bumi lain, seseorang harus berlari sepanjang 10 kilometer di atas treadmill hanya demi membakar kelebihan lemaknya. Lucu bukan?

Sungguh sebuah ironi. Entah untuk harta, kebahagiaan, hikmat, ataupun sukacita. Hanya akan ada dua kelompok manusia di dunia ini, mereka yang berkelimpahan dan mereka yang berkekurangan. Kedua kelompok itu ada untuk menyeimbangkan dunia. 

Yang berkelimpahan memberi dan yang berkekurangan menerima. Sekalipun setiap orang menyebut Anda Si Itik Buruk Rupa, percayalah selalu ada sesuatu yang baik dalam diri Anda yang dapat dibagikan walau dalam kekurangan. Semoga buku ini dapat menuntun Anda untuk menemukan berbagai macam kebaikan yang ada dalam diri Anda untuk dibagikan. 

Judul buku: Menari di Tengah Badai               
Penulis:  Sarah Ester
Penerbit: Elex Media Komputindo

✶✶✶✶✶

4 Comments

  1. Terima kasih review bukunya, Kak. Terkadang aku pun merasa menjadi seekor itik buruk rupa. Namun, itu bukan alasan untuk berputus asa. Pasti ada kebaikan dan kelebihan pada diri bagaimana pun buruknya kita di mata orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih kak. Semoga bermanfaat dan mencerahkan, walaupun cuma sedikit dari bagian buku yang dipaparkan

      Hapus
  2. namatin buku self improvement dalam waktu 3 hari itu cepet banget sih menurutku, Kak. Aku tim yang ga bisa nyelesaiin buku cepet-cepet gitu, apalagi self improvement, keknya butuh berbulan-bulan 🙈 apa aku aja ya yang males, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung bukunya juga sih ya kak. Karena ini dialog banget jadi agak cepat mencernanya. Meski suka bengong dulu karena relate semua wkwkwk

      Hapus